
Iran bantah laporan pemindahan uranium yang diperkaya ke negara ketiga

Foto yang diabadikan pada 1 Februari 2026 ini memperlihatkan pemandangan di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Jumat (5/6) membantah laporan dari jaringan televisi milik Arab Saudi, Al Arabiya, yang menyebutkan bahwa Teheran telah menyetujui pemindahan uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga.
Mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, Fars mengatakan bahwa isu-isu nuklir pada dasarnya tidak termasuk dalam agenda pembicaraan antara Teheran dan Washington saat ini yang bertujuan untuk mengakhiri perang, dan hanya akan dibahas pada tahap-tahap berikutnya.
Bantahan tersebut dilontarkan setelah laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa Iran telah memberi tahu Pakistan mengenai kesediaannya untuk memindahkan sebagian uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga.
Sumber tersebut menegaskan bahwa pemindahan semacam itu tidak sedang dibahas dalam perundingan, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat (AS) harus terlebih dahulu mengambil langkah-langkah yang "jelas dan pasti" sebelum "kesepakatan final mengenai sejumlah isu mendasar" dapat dicapai.
Sementara itu, militer Iran pada Jumat menyatakan bahwa angkatan lautnya melepaskan tembakan peringatan ke arah dua kapal perusak AS, DDG-103 dan DDG-87 dari gugus tempur kapal induk USS George H.W. Bush di Teluk Oman, dengan menggunakan rudal jelajah "Qadir" dan drone "Shahid Dana".
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs jejaring resminya, militer Iran mengatakan bahwa kedua kapal perusak tersebut kemudian pergi menuju Samudra Hindia.
Militer Iran menggambarkan operasi tersebut sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan Iran untuk melawan "tindakan jahat dan gangguan maritim serta pembajakan kapal komersial dan kapal tanker minyak oleh angkatan laut tentara teroris AS."
Sementara itu, Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS membantah bahwa insiden tersebut terjadi, menyatakan bahwa pasukan Iran tidak melepaskan tembakan ke kapal-kapal perang Angkatan Laut AS.
Menyusul gencatan senjata yang berlaku antara Iran, AS, dan Israel pada 8 April setelah 40 hari pertempuran, Teheran dan Washington memulai proses diplomatik dengan mediasi Pakistan guna mengakhiri perang. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak telah saling bertukar usulan rencana, menguraikan syarat-syarat untuk mewujudkan perdamaian, dan tengah berupaya untuk memfinalisasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU).
Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas dengan aman, menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap wilayah Iran. AS juga memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, mencegah kapal-kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran melintasi jalur perairan itu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China kecam langkah AS untuk desak negara lain bergabung dengan blokade teknologinya
Indonesia
•
08 Nov 2022

Trump isyaratkan AS dapat "segera" ambil tindakan terhadap target Venezuela melalui jalur darat
Indonesia
•
29 Nov 2025

Biden sebut kesepakatan gencatan senjata Israel-Hizbullah "dirancang untuk menjadi" permanen
Indonesia
•
28 Nov 2024

Wilayah Makkah umumkan dimulainya kembali izin Iftar Sayim
Indonesia
•
19 Mar 2021


Berita Terbaru

Perang AS-Iran masuk bulan keenam, ekonomi global masih bertahan? Ini jawaban IMF
Indonesia
•
12 Sep 2026

PBB: 1.500 warga Palestina terusir akibat pembongkaran Israel di Tepi Barat
Indonesia
•
12 Sep 2026

Aljazair putus hubungan diplomatik dengan UEA, duta besar diberi waktu 48 jam
Indonesia
•
12 Sep 2026

Houthi rebut kawasan Selat Bab al-Mandab, kuasai seluruh pesisir barat Yaman
Indonesia
•
12 Sep 2026
