Uranium yang diperkaya Iran tak mungkin ditransfer ke AS

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, berbicara dalam konferensi pers pekanan di Teheran, Iran, pada 6 April 2026. (Xinhua/Shadati)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran tidak akan memindahkan uranium yang telah diperkayanya ke negara asing, dan mengirimkannya ke Amerika Serikat (AS) tidak pernah menjadi pertimbangan, demikian disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat (17/4).

Saat berbicara di stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB, Baghaei mengatakan bahwa pernyataan publik baru-baru ini dari Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi disampaikan dalam kerangka gencatan senjata antara Iran dan AS yang diumumkan pada 8 April, bukan sebagai sinyal keterbukaan diplomatik baru.

Sebelumnya pada Jumat, Araghchi mengatakan Selat Hormuz akan tetap "dibuka sepenuhnya" bagi pelayaran komersial selama masa gencatan senjata yang sedang berlangsung antara Iran dan AS.

Baghaei kemudian mengklarifikasi pernyataan Araghchi tersebut, dengan mengatakan bahwa setelah gencatan senjata diterapkan di Lebanon pada Jumat, Teheran memilih untuk menerapkan persyaratan jalur aman yang tercantum dalam perjanjiannya dengan Washington bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Kami tidak mencapai kesepakatan baru," ujarnya. "Perjanjian gencatan senjata tersebut adalah gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April."

Baghaei menuduh AS sejak awal masa gencatan senjata gagal menghormati komitmen untuk memperluas ketentuan-ketentuan perjanjian itu ke Lebanon, sebuah klausul yang menurut Iran termasuk dalam kesepakatan 8 April. Washington dan Yerusalem menolak pernyataan tersebut.

Baghaei juga memperingatkan bahwa Iran akan mengambil "langkah balasan" jika blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz terus berlanjut. Dia mengatakan tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan gencatan senjata, dan bahwa upaya mediasi yang dipimpin Pakistan masih berfokus untuk mengakhiri konflik dan melindungi kepentingan Iran.

Iran mulai memperketat kendalinya atas selat tersebut sejak 28 Februari, ketika negara itu melarang jalur aman bagi kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan terhadap wilayah Iran. AS kemudian memberlakukan blokadenya sendiri, dengan mencegah kapal yang menuju dan meninggalkan pelabuhan Iran melintasi jalur perairan tersebut setelah perundingan damai di Islamabad gagal pada akhir pekan lalu.

Dengan mengutip sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut, Axios pada Jumat melaporkan bahwa putaran kedua negosiasi AS-Iran diperkirakan akan berlangsung di Pakistan akhir pekan ini, kemungkinan besar pada Ahad (19/4). 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait