
Feature – Tiga generasi pecinta Kung Fu: Kisah mahasiswi Indonesia belajar Tai Chi di China

Zeela Nebulani (pertama dari kiri) dan Zoura Nebulani (pertama dari kanan) belajar Tai Chi dari seorang guru asal China di Gunung Tian Tai di Kota Rizhao, Provinsi Shandong, China timur. (Sumber: Istimewa)
Tai Chi bukan sekadar seni bela diri, melainkan juga bentuk ekspresi budaya yang mengandung filosofi Timur.
Jinan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pada suatu pagi, di Gunung Tian Tai yang indah di Kota Rizhao, Provinsi Shandong, China timur, seorang gadis asal Indonesia tampak sedang berlatih Tai Chi. Setiap gerakannya terlihat anggun dan stabil. Berdiri di dekatnya, seorang guru Tai Chi, Zhang Jiahao, sesekali memberikan arahan teknik. Gadis yang sedang berlatih Tai Chi tersebut bernama Zeela Nebulani, seorang mahasiswa asal Indonesia yang saat ini tengah menempuh studi di Rizhao.
Gunung Tian Tai, dengan ketinggian 258 meter, dikenal luas karena warisan budaya Taoisme. Catatan kuno menyebutkan bahwa tempat ini adalah lokasi di mana ‘bahkan orang biasa dapat menjadi seorang abadi’. Tempat ini juga menjadi tujuan populer bagi para penggemar Tai Chi yang tertarik oleh atmosfer spiritualnya.
"Gerakan tangan awan (yun shou) saya terasa kurang tepat. Apa yang harus saya lakukan?" Setelah menyelesaikan satu rangkaian gerakan Tai Chi, Zeela meminta saran kepada Zhang.
"Dalam gerakan tangan awan, jangan hanya fokus pada gerakan. Anda perlu menyatu dengan lingkungan dan berkomunikasi dengan diri batin Anda," jelas sang guru dengan sabar, sembari menerangkan kedalaman filosofi yang terkandung dalam berbagai teknik Tai Chi.
Zeela mulai berlatih seni bela diri sejak usia enam tahun dengan mengikuti jejak ayahnya. Pada Mei 2024, dia datang ke Da Qing Mountain Tai Chi Training Center di Rizhao untuk mempelajari Tai Chi gaya Chen secara sistematis. Suasana budaya di daerah tersebut sangat menarik perhatiannya. Saat mengunjungi Rizhao Polytechnic, dia terinspirasi untuk melanjutkan studi di China. Pada September di tahun yang sama, Zeela menjadi mahasiswa internasional jurusan Ekonomi dan Perdagangan Internasional di perguruan tinggi tersebut. Adik perempuannya, Zoura Nebulani, kemudian mengikuti jejaknya dan juga belajar di institusi yang sama.
"Seni bela diri selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya. Itu juga menjadi salah satu alasan utama saya datang untuk belajar di China," kata Zeela. Selama tinggal di Rizhao, kedua saudari tersebut tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang bahasa dan budaya China.
Kecintaan Zeela terhadap Tai Chi berakar dari tradisi keluarga. Kakeknya merupakan penggemar Tai Chi yang telah lama mempraktikkan dan mempelajari seni bela diri tersebut. Kecintaan itu kemudian diwariskan kepada ayah Zeela, yang kemudian menjadi seorang atlet Tai Chi dan meraih prestasi yang baik dalam berbagai kompetisi di Indonesia maupun negara lain. Kini, kecintaan pada Tai Chi tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya, yaitu Zeela dan adiknya.
Saat berbicara tentang kehidupannya di Rizhao, Zeela mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraan yang besar. Rizhao Polytechnic, yang terletak di kota pesisir Rizhao di China timur, tidak hanya membuka pintu baginya untuk mempelajari bahasa dan budaya China, tetapi juga memberikan kesempatan berharga baginya untuk bertemu para penggemar Tai Chi lainnya dan terus meningkatkan kemampuannya.
Pada Juni 2025, ajang Da Qing Mountain Tai Chi Invitational Tournament kesembilan digelar di wilayah Wulian, Kota Rizhao. Hampir 4.000 peserta dari 20 lebih negara dan kawasan, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura, berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Zeela bersama ayah dan adiknya diundang untuk berpartisipasi dan menampilkan demonstrasi jurus seni bela diri dalam kompetisi tersebut.
"Pengalaman-pengalaman ini sangat berharga bagi saya karena memberi banyak kesempatan untuk belajar dan melakukan pertukaran budaya," kata Zeela. Dia berharap dapat memperkenalkan budaya China yang kaya dan mendalam kepada dunia serta membangun jembatan antarbudaya.
Bagi kedua saudari tersebut, Tai Chi bukan sekadar seni bela diri, melainkan juga bentuk ekspresi budaya yang mengandung filosofi Timur. Dalam beberapa tahun terakhir, seiring semakin eratnya hubungan antara China dan Indonesia melalui berbagai inisiatif seperti Sabuk dan Jalur Sutra (Belt And Road), semakin banyak anak muda Indonesia yang datang ke China untuk belajar dan menetap. Berbagai tradisi China, termasuk seni bela diri, festival, dan kuliner, telah menjadi penghubung budaya penting antara kedua negara.
Sebagai penggemar Tai Chi sekaligus mahasiswa jurusan Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Zeela berharap dapat menggabungkan pemahamannya tentang budaya China dengan ilmu yang dipelajarinya untuk mendorong kerja sama antara China, Indonesia, dan dunia yang lebih luas.
"Ekonomi China telah mencapai perkembangan yang luar biasa dan menjadi perekonomian terbesar kedua di dunia serta mitra dagang utama bagi banyak negara. Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt And Road Initiative/BRI) juga telah memberikan dorongan kuat bagi hubungan antara kedua negara kita," tutur Zeela. "Saya berharap dapat menjadi jembatan antara China dan Indonesia, serta memperkenalkan keindahan budaya China kepada lebih banyak orang."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Grebeg Sudiro, simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Solo, Jawa Tengah
Indonesia
•
16 Feb 2026

Satu dari lima penderita kanker paru-paru di seluruh dunia bukan perokok
Indonesia
•
23 Oct 2025

WHO setujui vaksin mpox pertama untuk penggunaan global
Indonesia
•
14 Sep 2024

COVID-19 – Jepang susun kebijakan hadapi potensi gelombang kedelapan infeksi
Indonesia
•
11 Nov 2022


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
