
Feature – Piala Dunia hadirkan kegembiraan dan momen kebersamaan di Damaskus, Suriah

Seorang pria memotret anak-anaknya yang berpose di depan poster dalam 'Festival Piala Dunia 2026' di Damaskus, Suriah, pada 11 Juni 2026. Festival ini berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli. (Xinhua/Monsef Memari)
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Para pecinta sepak bola terjaga hingga larut malam pada Kamis (11/6), mata mereka terpaku pada layar raksasa di luar ruangan saat sorak-sorai menggema di seluruh alun-alun. Ini bukan New York, Toronto, atau Mexico City, melainkan Damaskus, di mana sekalipun konflik telah meninggalkan luka, Piala Dunia mampu menyatukan orang-orang dalam momen kegembiraan yang langka dan menggetarkan.
‘Festival Piala Dunia 2026’, sebuah acara lokal yang diluncurkan pekan ini di ibu kota Suriah, telah mengubah bekas area pameran Damascus Fairgrounds menjadi zona publik bagi pencinta sepak bola yang menggabungkan penayangan siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia dan berbagai hiburan serta kegiatan rekreasi.
Di tengah area festival berdiri sebuah struktur menjulang berbentuk bola yang bercahaya, menghadap ratusan penonton yang berkumpul di depan layar raksasa yang menayangkan siaran langsung pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 dan terus menayangkan pertandingan selama beberapa pekan mendatang.
Diselenggarakan oleh panitia penyelenggara acara bekerja sama dengan Organisasi Umum untuk Pameran dan Pasar Internasional Suriah, acara ini berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli, bertepatan dengan turnamen Piala Dunia.
Festival ini menampilkan area menonton bersama sepak bola yang luas, kios makanan, kegiatan bertema olahraga, dan ruang hiburan, yang menarik pecinta sepak bola dari berbagai kelompok usia.
Saat musik dimainkan dan kerumunan orang bergerak melalui jalan setapak yang diterangi cahaya lampu dan dihiasi bendera berbagai negara, banyak pengunjung menggambarkan acara tersebut sebagai kesempatan langka untuk menikmati perayaan bersama setelah bertahun-tahun perang dan kesulitan ekonomi membayangi kota.
"Acara ini merupakan momen yang sangat indah dan membantu meredakan kekhawatiran yang kita lihat setiap hari di berita, baik itu benar atau salah," kata Ahmad al-Nazzah, seorang pengunjung dari Kota Deir al-Zour, kepada Xinhua. "Semua ini memengaruhi psikologi masyarakat, terutama kaum muda dan anak-anak. Menurut saya, ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan saya berharap ini akan lebih sering terjadi," imbuhnya.
Bagi banyak pengunjung, festival ini mewakili lebih dari sekadar pertemuan olahraga, namun juga berfungsi sebagai ruang sosial yang menyatukan orang-orang melalui sepak bola.
"Suasananya sangat menyenangkan karena semua ada di satu tempat, mulai dari makanan, minuman, hiburan, dan layar raksasa," kata Anas Somiyeh, seorang pengunjung di Damaskus, kepada Xinhua. "Ini sesuatu yang baru di Suriah, di mana orang-orang berkumpul dan datang bersama teman-teman. Suriah sangat membutuhkan ruang seperti ini, mengingat negara ini baru saja keluar dari perang dan orang-orang membutuhkan momen-momen kegembiraan. Kami berharap kebahagiaan ini terus berlanjut," ujar Somiyeh.
Pihak penyelenggara mengatakan festival ini bertujuan untuk menciptakan kembali suasana zona fan internasional yang biasa terlihat dalam turnamen-turnamen akbar dunia, sekaligus menyediakan ruang publik yang aman bagi keluarga dan kaum muda.
"Saat ini kita hidup di bawah tekanan yang besar, dan olahraga selalu menjadi pelarian bagi orang-orang di seluruh dunia," kata Mazen Qudsi, salah satu penyelenggara acara tersebut. "Di negara-negara yang baru pulih dari perang dan keadaan sulit, olahraga menjadi pemersatu yang menyatukan orang dan menciptakan momen-momen yang sudah lama tidak dialami masyarakat," kata staf itu.
Seiring berlanjutnya pertandingan dalam beberapa pekan mendatang, kerumunan penonton diperkirakan akan terus berkumpul setiap malam di Damaskus, di mana para pecinta sepak bola mengatakan festival ini tidak hanya menawarkan hiburan tetapi juga sedikit rasa normalitas dan kebersamaan di tengah tantangan yang sedang terjadi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Masyarakat Afghanistan rayakan Idul Adha di tengah kesulitan ekonomi
Indonesia
•
18 Jun 2024

WHO: Tak perlu vaksinasi cacar monyet secara massal
Indonesia
•
24 May 2022

PBB gelontorkan 25 juta dolar AS untuk tanggulangi banjir di Somalia
Indonesia
•
10 Nov 2023

COVID-19 – OKI kutuk kremasi jenazah Muslim yang terinfeksi di Sri Lanka
Indonesia
•
06 Nov 2020


Berita Terbaru

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026

Feature – Mengenal yoga 'Made in Indonesia' yang sarat filosofi Jawa
Indonesia
•
15 Jun 2026

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026
