
Feature – Mengenal yoga 'Made in Indonesia' yang sarat filosofi Jawa

Foto yang diabadikan pada 30 Mei 2026 ini menampilkan sesi Sulur Yoga oleh praktisi Agustin Sulistyawati di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Xinhua/Destyan)
Sleman, Yogyakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Akhir pekan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, belasan peserta tampak duduk bersila di atas matras masing-masing ditemani sang surya. Sekilas, gerakan tubuh mereka mirip dengan aktivitas yoga pada umumnya, namun jika diamati lebih saksama tampak modifikasi gerakan yang menyisipkan unsur kearifan lokal.
Menurut Agustin Sulistyawati (38), praktisi yoga bersertifikat E-RYT 200, YACEP, yang memimpin sesi pagi itu, gerakan tersebut merupakan Sulur Yoga kreasinya. "Sulur Yoga dapat dipahami sebagai gerakan yang membuat tubuh bergerak seperti sulur tanaman, lentur, mengalir, namun tetap kuat dan terhubung dengan napas serta lingkungan sekitar serta sarat filosofi Jawa," ujar Agustin ketika ditemui Xinhua pada Sabtu (30/5).
Seolah tampil sebagai ‘Made in Indonesia’, Agustin mengaku cukup mendapat apresiasi positif atas manfaat Sulur Yoga. "Awalnya saya hanya membagikan kepada para klien pribadi dan para murid, ternyata mereka antusias karena mengaku merasakan manfaatnya secara langsung," ungkap Agustin, yang juga pengisi tetap kelas yoga di resor kelas dunia Amanjiwo di dekat Borobudur, Jawa Tengah.
Gerakan Sulur Yoga terlihat lembut, mengalir, organik, dan tidak terlalu kaku mengikuti pose yoga klasik, serta menekankan kesadaran napas, sensasi tubuh, dan hubungan dengan alam. "Sulur Yoga menggabungkan unsur somatic movement (gerakan sadar tubuh), meditasi, relaksasi, dan terkadang tari atau sound healing sehingga cocok untuk peregangan otot, pelepasan ketegangan tubuh, dan relaksasi mental," ujar Agustin yang saat ini telah mengantongi sertifikasi 200 jam Hatha dan 300 jam Yin.
Eksplorasi Nusantara
Menilik kekayaan komposisi tersebut, perjalanan lahirnya Sulur Yoga pun menarik untuk disimak karena tumbuh dengan beragam cerita eksplorasi serta kolaborasi dari berbagai tempat berbeda di Nusantara.
Agustin berkisah, awalnya pada 2018 silam GKR Bendara dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berkeinginan mengembangkan olah tubuh yang awalnya ditujukan untuk kebutuhan internal. Singkatnya, Agustin pun diminta untuk mengkreasikan semacam Yoga yang khas dengan unsur dominan kearifan lokal.
"Karena mendapat amanat tersebut kemudian saya banyak berjumpa dan diperkenalkan dengan beragam praktisi tari, namun gayung justru bersambut pada masa pandemi di mana seolah jadi pemantik untuk segera mewujudkan Sulur Yoga," ungkap Agustin mengisahkan.
Menurutnya, rentetan momen berkesan diawali ketika mengikuti kelas daring dari staf pengajar Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Maria Darmaningsih, pada 2021. Selanjutnya, rangkaian perjalanan membawa Agustin bereksplorasi mulai dari bertemu Rianto, seniman kenamaan tari Lengger Banyumas, hingga menapakkan kaki ke Kampung Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, sebelum akhirnya kembali ke pakem Yogyakarta.
Selanjutnya pada 2024, Agustin berjumpa dengan penari kawakan Kinanthi Sekar Rahina untuk berkolaborasi di salah satu sanggarnya di wilayah Minggir, Kabupaten Sleman. Di tempat yang sama, dirinya turut menyerap ilmu dari Yessy Yoanne sang seniman tari dan layar lebar.
Di sanggar tersebut selama enam bulan, Sulur Yoga pun semakin matang karena semesta sekitar yang dirasa Agustin mendukung. "Karena lingkungan sangat kondusif untuk kreativitas, baik dari sisi alam pedesaan murni dan steril yang menenangkan, interaksi dengan para individu yang mindful, pada akhirnya Sulur Yoga dapat semakin mengerucut untuk menemukan bentuk finalnya," ujar Agustin.
Manfaat Praktis
Pada akhirnya, Sulur Yoga resmi diperkenalkan pada gelaran Jogja Culture Wellness Festival (JCWF) 2025 dan cukup sukses mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bukti dari hal tersebut adalah adanya fakta unik yang masih diingat Agustin hingga saat ini. "Bahkan orang-orang yang baru pertama kali melakukan yoga kala itu tak terbendung untuk menangis, ini menandakan bahwa ada sumbatan energi yang terbuka, baik dalam hal raga, mental dan spiritual. Sulur Yoga membantu membuka sumbatan tersebut," kenangnya.
Menurut Agustin, manfaat praktis bagi kesehatan merupakan hal yang membuat Sulur Yoga mudah diterima di segala lapisan masyarakat. "Jauh sebelum JCWF, sebenarnya saya sudah cukup banyak memperkenalkan Sulur Yoga kepada klien pribadi dan orang terdekat. Feedback-nya relatif sama, mereka merasakan ada perubahan dalam waktu relatif singkat."
Tak hanya tatap muka, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, Sulur Yoga pun bisa dirasakan faedahnya hingga lintas benua melalui kelas daring, salah satunya oleh Anditta (38), WNI yang saat ini berdomisili di Australia. Menurut wanita yang pernah dilarang hamil oleh dokter untuk mencegah kelumpuhan karena menderita lower-back pain akut tersebut, Sulur Yoga dirasa telah mengubah hidupnya.
"Berlatih Sulur Yoga, saya merasakan munculnya awareness terhadap tubuh sendiri saat bergerak sehari-hari untuk mencegah terjadinya cedera, mengingat saya punya kondisi khusus dan berpotensi lebih fatal dibanding orang normal," ujar Anditta, yang saat ini telah berhasil melahirkan normal, kepada Xinhua melalui sambungan telepon.
"Lainnya adalah olah tubuh dan olah rasa karena orang sehat saja harus maintain kesehatan apalagi orang dengan kondisi seperti saya. Olah tubuh membantu mengelola rasa sakit seminimal mungkin dan tidak mengganggu fungsi diri sebagai manusia normal," lanjut Anditta yang telah mempraktikkan Sulur Yoga selama 2,5 tahun.
Pengalaman Anditta setali tiga uang dengan Sophia Shao (40). Warga negara China yang tinggal di Tokyo itu kerap mengeluhkan sakit kronis pada lehernya akibat jetlag bepergian. Namun, setelah berlatih Sulur Yoga meski dalam waktu singkat, lehernya perlahan dirasa membaik dan kembali nyaman.
"Manfaat utama Sulur Yoga paling real adalah untuk develop energi, physical awareness, serta spiritual dan memahami apa yang dibutuhkan tubuh. Ini berbeda dan terasa lebih baik daripada yoga yang saya pelajari sewaktu di Amerika yang hanya fokus pada kebugaran generik," ujar Sophia kepada Xinhua melalui pesan suara.
Menurut Satwika Rahapsari Ph.D, akademisi dan pakar neurosains dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, saat berlatih yoga di dalamnya melibatkan aspek pernafasan, sistem saraf pada tubuh pun mengalami perubahan dibanding kondisi sebelum berlatih. Menangis merupakan salah satu cara alami dari otak dan tubuh untuk menyelesaikan proses regulasi tubuh sebagaimana mestinya.
"Transisi psikologis ini tidak selalu mulus, ini kemudian bisa mendatangkan gelombang emosi yang tiba-tiba, salah satu ekspresinya dengan menangis. Ini bisa dijelaskan secara ilmiah, bukan sesuatu yang mistis, bukan kelemahan, dan sebenarnya justru respons neurobiologis yang sehat," jelas Satwika ketika dihubungi Xinhua.
Menurutnya, awareness yang dirasakan para peserta Sulur Yoga adalah bentuk interoceptive awareness, yaitu kemampuan untuk benar-benar hadir dan merasakan kondisi internal tubuh secara sadar. Satwika, yang juga menyandang sertifikasi registered dance/movement therapist (R-DMT), menyimpulkan bahwa dengan terus berlatih yoga maka seseorang akan semakin mampu memulihkan kemampuan tersebut yang biasanya terputus karena situasi sehari-hari dan tekanan hidup.
Genjot pariwisata lokal
Munculnya Sulur Yoga tak ayal turut mendorong peluang baru di sektor pariwisata karena sarat kearifan lokal dan mendongkrak promosi wisata minat khusus yang semakin variatif dan tentu menjadi kekhasan wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah khususnya.
"Review positif dari para tamu terhadap Sulur Yoga menjadi pemicu naiknya nilai jual program tersebut di resor atau hotel. Saat ini saja permintaan tinggi atas Sulur Yoga membuat setiap hari selalu ada kelas di berbagai lokasi dan saya nyaris tidak pernah libur hingga setahun belakangan," terang Agustin.
Terlebih, dalam mempromosikan Sulur Yoga, banyak pelaku jasa wisata memiliki pengalaman pribadi terlebih dahulu dalam merasakan manfaat Sulur Yoga, sehingga lebih menguasai product knowledge atas apa yang mereka tawarkan.
"Keselarasan gerak dengan jiwa akan menciptakan harmoni. Dampak positifnya, akan membuat tubuh lebih nyaman karena peregangan optimal dan sesi meditasi juga menenangkan. Sentuhan budayanya menjadikan kami lebih kagum terhadap warisan nenek moyang dan bangga karena turut melestarikannya agar tetap eksis di kehidupan ultramodern," ujar Awang (37), seorang representative dari Wanasekar Resort, Yogyakarta.
Menurut Hairullah Gazali M.B.A, praktisi pariwisata dan direktur utama Jogja Tourism Training Center (JTTC), Sulur Yoga diharapkan dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi wellness tourism yang memiliki karakter lokal berbeda dari daerah lain seperti Bali.
"Wisatawan modern semakin mencari pengalaman autentik yang mencerminkan identitas budaya suatu daerah. Sulur Yoga dapat menjadi bagian upaya diversifikasi produk wisata Indonesia yang selama ini masih didominasi wisata alam dan budaya konvensional," ungkapnya kepada Xinhua.
Meski demikian, menurut Hairullah, tantangan yang perlu diwaspadai adalah perubahan makna budaya akibat tuntutan pasar. Harapannya, praktik wisata tidak hanya mengikuti selera wisatawan dan tetap mempertahankan nilai filosofisnya, sehingga keberlanjutan budaya tidak terancam.
"Untuk pengelola, secara umum perlu memperhatikan keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian budaya, standar pelayanan dan keamanan yang baik, penggunaan pemasaran digital yang efektif, perlindungan terhadap hak intelektual dan kepemilikan budaya komunitas lokal, pengembangan produk yang berbasis komunitas agar manfaat ekonomi tidak terpusat pada investor semata," jelasnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih 400.000 warga Indonesia tunaikan umroh dalam empat bulan
Indonesia
•
28 Dec 2019

COVID-19 – Gamaleya mulai uji vaksin pasca pendaftaran pada 4-5 September
Indonesia
•
26 Aug 2020

Penulis muda Israkhansa bercita-cita jadi pengacara
Indonesia
•
28 Jan 2025

Jepang catat rekor penurunan populasi pada 2023
Indonesia
•
28 Feb 2024


Berita Terbaru

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026

Feature – Piala Dunia hadirkan kegembiraan dan momen kebersamaan di Damaskus, Suriah
Indonesia
•
15 Jun 2026

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026
