
Feature – Di balik jutaan ekspatriat Arab Saudi, ada Maktab Jaliyat yang bantu mereka beradaptasi

Penulis, Dadai Hidayat, Lc. (Foto: Pribadi)
Riyadh, Arab Saudi (Indonesia Window) — Setiap tahun, jutaan warga negara asing datang ke Arab Saudi. Ada yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, insinyur, dosen, pekerja migran, hingga staf perusahaan multinasional. Mereka berasal dari ratusan negara dengan bahasa, budaya, dan latar belakang yang berbeda.
Data terbaru menunjukkan Arab Saudi memiliki sekitar 13,4 juta hingga 15,7 juta ekspatriat, yang mewakili sekitar 40 persen hingga 42 persen dari total populasi Kerajaan sebanyak 35,17 juta jiwa.
Beradaptasi di negeri baru tentu menjadi sesuatu yang menantang. Selain menghadapi perbedaan bahasa, para pendatang juga harus memahami budaya lokal, tata kehidupan masyarakat, hingga aturan yang berlaku.
Menyadari tantangan tersebut, pemerintah Kerajaan Arab Saudi membangun berbagai sistem pendukung bagi komunitas ekspatriat, salah satunya melalui Maktab Dakwah dan Bimbingan Islam untuk Orang Asing (Jaliyat).
Di ibu kota Kerajaan, Riyadh, salah satu yang paling dikenal adalah Maktab Jaliyat Rabwah.
***
Setiap hari, begitu cahaya pagi menyelimuti Riyadh, halaman Maktab Jaliyat mulai ramai oleh para perantau dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Sebagian datang mengenakan seragam kerja, sebagian lainnya membawa buku catatan atau map berisi dokumen.
Dari ruang-ruang kelas terdengar percakapan dalam bahasa Arab, Indonesia, Urdu, Bengali, Tagalog, hingga sejumlah bahasa lain.
Suasananya mengingatkan pada sebuah pusat pembelajaran multikultural. Orang-orang datang bukan hanya untuk mengikuti kajian, tetapi juga belajar bahasa Arab, mengenal kehidupan sosial di Arab Saudi, dan bertemu sesama perantau yang mengalami perjalanan serupa.
Bagi banyak ekspatriat, tempat ini menjadi salah satu tempat pertama untuk memahami kehidupan di negeri yang baru mereka tinggali.
Maktab Jaliyat berada di bawah koordinasi Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya pemerintah setempat menyediakan layanan pembinaan bagi masyarakat non-Arab yang tinggal di Kerajaan, mulai dari pekerja migran, tenaga profesional, mahasiswa, hingga mualaf dari berbagai negara.
Fungsinya tidak berhenti pada pembinaan keagamaan. Melalui berbagai program edukasi, lembaga ini juga membantu para pendatang memahami bahasa Arab, budaya lokal, etika bermasyarakat, serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari sehingga proses adaptasi berlangsung lebih mudah.
Model pelayanan yang digunakan juga cukup unik. Para dai dan tenaga pendidik berasal dari berbagai negara, sehingga komunikasi dapat dilakukan menggunakan bahasa ibu masing-masing komunitas. Pendekatan ini membuat materi yang disampaikan lebih mudah dipahami sekaligus mengurangi hambatan bahasa yang kerap dihadapi para pendatang.
Lebih dari sekadar kajian keagamaan
Penulis pernah terlibat secara langsung dalam pelayanan masyarakat Indonesia di Maktab Jaliyat Rabwah.
Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa aktivitas lembaga ini jauh melampaui penyelenggaraan ceramah atau pengajian.
Setiap hari, para dai, penerjemah, dan tenaga pendukung melayani masyarakat dari beragam latar belakang budaya. Ada yang datang untuk mengikuti kelas bahasa Arab, berkonsultasi mengenai pemahaman agama, mencari literatur keislaman dalam bahasa mereka sendiri, atau sekadar bertemu komunitas yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Interaksi lintas bangsa menjadi pemandangan sehari-hari. Dalam satu ruangan, seseorang dari Indonesia dapat belajar bersama peserta dari Pakistan, Filipina, Bangladesh, India, hingga berbagai negara Afrika. Perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang karena setiap komunitas memperoleh pendampingan dalam bahasa yang mereka pahami.
Layanan utama
Pelayanan Maktab Jaliyat umumnya berfokus pada tiga bidang utama.
Pertama, pendidikan ilmu syariat. Peserta dapat mengikuti kelas yang membahas akidah, fikih, tafsir Al-Qur'an, bahasa Arab, hingga pembelajaran membaca Al-Qur'an.
Program ini diselenggarakan secara bertahap dengan kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta. Pada sejumlah program tertentu, peserta yang memenuhi persyaratan juga berkesempatan memperoleh penghargaan berupa bantuan pelaksanaan ibadah haji atau umrah.
Kedua, bimbingan keagamaan multibahasa. Layanan ini tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Urdu, Bengali, Tagalog, dan sejumlah bahasa lainnya. Pendekatan ini memungkinkan penyampaian materi berlangsung lebih efektif karena peserta tidak harus bergantung pada penerjemah.
Ketiga, literasi digital. Selain kegiatan tatap muka, Maktab Jaliyat juga memproduksi berbagai materi edukasi dalam bentuk buku elektronik, artikel, audio, video, hingga konten pembelajaran yang dapat diakses masyarakat secara daring melalui berbagai platform.
Seiring berkembangnya kelembagaan menjadi bentuk asosiasi (Jam'iyyah), jaringan pelayanan Maktab Jaliyat kini tersebar di berbagai wilayah Arab Saudi.
Selain di Riyadh, layanan serupa dapat ditemukan di sejumlah provinsi utama lainnya, seperti Makkah, Madinah, Ash Sharqiyah, Asir, Tabuk, Al-Qassim, Ha'il, Jazan, Najran, Al-Bahah, Al-Jawf, hingga Al-Hudud ash-Shamaliyah.
Setiap wilayah memiliki satu atau lebih kantor pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas ekspatriat setempat.
Keberadaan jaringan ini menunjukkan bahwa pelayanan bagi masyarakat asing tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau berbagai daerah yang menjadi tujuan tinggal dan bekerja para ekspatriat.
Rumah kedua di negeri rantau
Bagi sebagian besar pekerja migran, Maktab Jaliyat bukan sekadar tempat mengikuti kelas atau kajian.
Di sanalah mereka menemukan teman se-Tanah Air, atau malah menambah kawan baru lintas negara, berbagi pengalaman hidup di negeri orang, memperoleh dukungan moral ketika rasa rindu kepada keluarga datang, sekaligus membangun jejaring sosial yang membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam banyak kesempatan, lembaga ini menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang dari berbagai bangsa dengan tujuan yang sama: belajar, beradaptasi, dan menjalani kehidupan baru dengan lebih baik.
Di tengah keberagaman jutaan ekspatriat yang hidup dan bekerja di Arab Saudi, Maktab Jaliyat memperlihatkan bagaimana sebuah sistem pelayanan yang didukung pemerintah dapat menjadi jembatan antara masyarakat lokal dan komunitas internasional. Bukan hanya melalui pembinaan keagamaan, tetapi juga lewat pendidikan, literasi, dan pendampingan sosial yang membantu para pendatang merasa lebih siap menjalani kehidupan di negeri yang jauh dari kampung halaman.
Selesai
Penulis: Dadai Hidayat, Lc. [Lulusan LIPIA Jakarta yang pernah bertugas sebagai dai di Maktab Dakwah dan Bimbingan Islam untuk Orang Asing (Jaliyat) Rabwah, Riyadh, Arab Saudi. Selama bertugas, dia ikut dalam pelayanan masyarakat Indonesia, penerjemahan materi dakwah, penyusunan literatur edukasi, serta produksi konten digital ke-Islam-an. Sejumlah karya terjemahan, audio, dan video yang dihasilkannya terdokumentasi dalam platform IslamHouse]
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Jamaah tak perlu izin sholat di Masjidil Haram
Indonesia
•
06 Mar 2022

Rumah Singgah Janda Dhuafa pertama di Cileungsi, solusi pengentasan kemiskinan
Indonesia
•
21 May 2026

Ramadan 1447 – Menilik tradisi ‘megibung’ saat bulan Ramadan di Bali
Indonesia
•
23 Feb 2026

Ramadan 1447H – Menilik kehidupan umat Muslim di Lanzhou, China
Indonesia
•
13 Mar 2026


Berita Terbaru

Di ruang Pengadilan Jeddah satu-dua kata ‘sudah cukup’
Indonesia
•
25 Jul 2026

Kisah – ‘Hajjah fulanah’ pulang diam-diam dari Arab Saudi
Indonesia
•
23 Jul 2026

Kisah – Di hadapan Ka'bah, semua gelar gugur
Indonesia
•
20 Jul 2026

Feature – Menyusuri jejak Andalusia di jantung Prancis: Sehari di Masjid Agung Paris
Indonesia
•
13 Jul 2026
