Feature – Saat dunia rayakan Hari Orang Tua, warga Gaza berjuang pertahankan hidup

Seorang warga Palestina menerima bantuan makanan dari Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) dari salah satu pusat distribusi organisasi kemanusiaan tersebut di Gaza City pada 8 Januari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Pada Senin (1/6), yang bertepatan dengan Hari Orang Tua Sedunia, para orang tua di Jalur Gaza tetap menghabiskan hari mereka dengan mencari air, makanan, dan perlengkapan untuk anak-anak mereka di tengah penderitaan yang berkepanjangan akibat perang.

Meskipun gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah diberlakukan sejak Oktober 2025, putaran terbaru konflik Israel-Palestina yang meletus pada 7 Oktober 2023 telah mengubah jalan hidup banyak orang tua secara mendasar. Salah satu di antaranya adalah Salim Othman (37), seorang mantan dosen universitas yang sedang menempuh studi doktoral di bidang ekonomi.

"Kehidupan di Gaza adalah siklus perjuangan untuk bertahan hidup, dan kami (para orang tua) semua terjebak dalam lingkaran setan," ujar Othman, yang mengungsi dari Beit Hanoun di Jalur Gaza utara dan kini tinggal di sebuah tenda di Gaza City.

"Alih-alih menyibukkan diri dengan penelitian dan menyelesaikan studi pascasarjana saya, kini saya justru disibukkan dengan mengantre untuk mendapatkan air dan makanan, serta memenuhi kebutuhan dasar anak-anak saya," tutur Othman.

Othman tidak sendirian. Saeed Abu Shakoush (39), pria asal Rafah yang kini tinggal di sebuah tenda di Deir al-Balah, menghabiskan hari-harinya di tempat pengungsian sembari berusaha menjaga rutinitas keempat anaknya.

Sebelum konflik terjadi, Shakoush selalu memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi anak-anaknya, seperti bermain sepak bola, berhitung cepat, dan bermain catur. "Sekarang, saya nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan harian mereka," ujarnya. Fokus utama saat ini adalah bertahan hidup untuk jangka pendek, bukan perencanaan jangka panjang, imbuhnya.

Di Gaza City, kehidupan Mariam Hassan (29) juga mengalami perubahan yang sangat mendalam. Dia kehilangan suami, orang tua, serta saudara-saudaranya akibat serangan udara Israel, menjadikannya sebagai satu-satunya pengasuh bagi ketiga anaknya dan adik perempuannya yang berusia 12 tahun.

"Saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri," kata Hassan kepada Xinhua. "Setiap hari dimulai dengan pertanyaan yang sama: bagaimana saya akan memberi makan anak-anak saya, dan bagaimana saya bisa menyediakan air atau obat-obatan jika mereka membutuhkannya?"

Dia menambahkan bahwa waktu tidurnya menjadi tidak teratur akibat kelelahan dan rasa takut yang dipicu oleh pengeboman yang terus berlangsung. "Bahkan, hal-hal mendasar pun telah berubah. Porsi makanan harus diperhitungkan dengan cermat, dan seluruh waktu kami tercurah untuk memenuhi kebutuhan pokok. Saya hidup di bawah tekanan yang tiada henti, tetapi saya tidak boleh menyerah," ujarnya.

Terlepas dari segala kesulitan tersebut, Hassan mengatakan bahwa anak-anaknya tetap menjadi sumber kekuatan utamanya. "Terkadang, saya merasa sangat tertekan di dalam hati, tetapi ketika saya melihat mereka, saya terus melangkah. Mereka tidak berdosa dan tidak seharusnya menanggung apa yang sedang terjadi saat ini," tutur wanita itu.

Nourhan Ahmed, seorang pekerja sosial yang bertugas di kamp-kamp pengungsi di seluruh Jalur Gaza, mengatakan kepada Xinhua bahwa konflik berkepanjangan ini telah memberikan beban psikologis dan ekonomi yang sangat besar bagi para orang tua.

"Para orang tua setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka, sekaligus berusaha melindungi anak-anak dari trauma psikologis akibat perang," kata Ahmed.

"Para orang tua terus-menerus menyeimbangkan antara tuntutan untuk bertahan hidup dan memberikan perhatian emosional, meskipun mereka sendiri mengalami penderitaan yang sama seperti anak-anak mereka. Hal ini secara signifikan menambah tingkat stres dan memperdalam ketidakpastian mengenai masa depan," tambah Ahmed.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait