
5 hingga 7 Pasien di Gaza berada di ambang kematian setiap hari akibat keterlambatan akses pengobatan di luar negeri

Foto yang diabadikan pada 25 Maret 2026 ini menunjukkan tenda-tenda sementara untuk pengungsi Palestina di sebelah barat Gaza City. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Antara lima hingga tujuh pasien berada di ambang kematian di Jalur Gaza akibat keterlambatan akses pengobatan di luar negeri, kata seorang pejabat medis pada Ahad (24/5), di saat puluhan warga Palestina melakukan protes terhadap blokade Israel dan apa yang mereka sebut sebagai "kebijakan kelaparan" yang disengaja.
Bashar Murad, direktur program kesehatan di Palang Merah Palestina, mengatakan dalam sebuah pernyataan lebih dari 18.000 pasien membutuhkan rujukan ke pusat medis khusus di luar Gaza.
Sektor kesehatan mengalami pukulan berat, dengan 29 rumah sakit tidak dapat beroperasi selama konflik yang masih berlangsung, kata Murad.
Murad menambahkan rumah sakit-rumah sakit lain beroperasi dengan kapasitas yang sangat terbatas, sehingga staf terpaksa memprioritaskan hanya kasus-kasus yang mengancam jiwa.
Sementara itu, Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society) mengatakan tim mereka pada Ahad berpartisipasi dalam proses evakuasi medis terhadap 79 orang, yang terdiri dari 38 pasien, dan 41 pendamping, dari kantor pusat organisasi itu di Khan Younis melalui perlintasan Rafah dengan Mesir, berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Meski demikian, otoritas-otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza memperingatkan adanya masalah kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis penting, yang mengancam keselamatan ribuan pasien.
Dalam sebuah pernyataan, otoritas-otoritas itu mengatakan sekitar 250 pasien penyakit ginjal dapat kehilangan akses ke sesi dialisis akibat minimnya pasokan medis, delapan anak mungkin harus menghentikan perawatan dialisis mereka karena kekurangan filter, kekurangan insulin memperburuk kondisi sekitar 11.000 pasien diabetes, dan 110 pasien hemofilia menderita akibat kurangnya perawatan yang tepat.
Sementara itu, puluhan orang menggelar unjuk rasa di kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza tengah untuk menentang blokade Israel dan ‘kebijakan kelaparan’ yang disengaja.
Dalam unjuk rasa tersebut, anak-anak memukul-mukul panci dan wajan kosong, sambil membawa spanduk bertuliskan ‘Tolak Kelaparan’, ‘Tolak Kebijakan Penciptaan Kelaparan dan Blokade’, dan ‘Kita Berhak Hidup Tanpa Kelaparan’.
Berbicara atas nama sejumlah organisasi masyarakat sipil, Abdullah Mughari mengatakan warga di daerah kantong tersebut menghadapi kondisi kemanusiaan yang mengerikan akibat blokade dan masalah kekurangan pangan.
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi kehidupan di wilayah pesisir yang dihuni lebih dari dua juta orang itu masih memprihatinkan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Liga Dunia Muslim kecam para ekstremis, tanggapi pidato Macron tentang 'separatisme Islam'
Indonesia
•
12 Oct 2020

Pemerintah Australia akan jatuhkan denda berat terhadap perusahaan teknologi yang lakukan tindakan antikompetisi
Indonesia
•
03 Dec 2024

Rusia denda Google 3,9 miliar rupiah karena langgar aturan data
Indonesia
•
17 Jun 2022

Fokus Berita – Xi Jinping dan Kim Jong Un bertekad pererat hubungan China-RRDK (Bagian 2 dari 2)
Indonesia
•
10 Jun 2026


Berita Terbaru

Feature – Saat AfD menang 44 persen, seniman dan mahasiswa di Jerman timur mulai cemas
Indonesia
•
07 Sep 2026

Pengguna media sosial bisa ‘matikan’ rekomendasi algoritma, platform yang melanggar kena denda 1,27 triliun rupiah
Indonesia
•
08 Sep 2026

Trump ancam larang Bombardier jual jet di AS, perang dagang dengan Kanada memanas
Indonesia
•
08 Sep 2026

Israel ancam Iran lagi, Netanyahu: Kami bertekad menggulingkan Teheran
Indonesia
•
07 Sep 2026
