
Venezuela dari Mahkamah Pidana Internasional, tuding pengadilan internasional diskriminatif terhadap Amerika Latin dan Afrika

Pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro menggelar aksi unjuk rasa di luar sebuah gedung pengadilan di New York, Amerika Serikat, pada 26 Maret 2026. (Xinhua/Zhang Fengguo)
Caracas, Venezuela (Xinhua/Indonesia Window) – Venezuela pada Jumat (24/7) mengumumkan akan mengundurkan diri dari Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC), menyatakan pengadilan yang berbasis di Den Haag tersebut telah menunjukkan ‘bias geografis’ terhadap negara-negara Amerika Latin dan Afrika.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Venezuela Felix Plasencia dalam unggahan di platform X mengatakan negaranya telah menginformasikan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengenai keputusan "tegas dan tidak dapat dibatalkan" Venezuela untuk mengakhiri keikutsertaan dalam Statuta Roma dan memulai proses pengunduran diri secara definitif dari ICC berdasarkan Pasal 127.
Plasencia menyebut pengadilan itu telah secara tidak proporsional memfokuskan pekerjaannya "untuk merugikan negara-negara Global South," sekaligus melanggengkan apa yang dia sebut sebagai persekusi terhadap rakyat Venezuela dan memperparah ketimpangan.
Dia menyatakan tindakan pengadilan itu telah memperlihatkan bagaimana sebuah sistem peradilan internasional digunakan untuk "memperdalam ketimpangan di antara bangsa-bangsa serta mengabaikan hak mereka atas penentuan nasib sendiri dan kedaulatan."
Menurut laporan media, ICC pada 2021 mengumumkan bahwa mereka akan menyelidiki kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pemerintah Venezuela selama penindakan demonstrasi antipemerintah pada 2017.
Majelis Nasional Venezuela telah memutuskan melalui pemungutan suara pada Desember 2025 untuk menarik diri dari komitmennya dalam Statuta Roma.
Sementara itu, Menlu Plasencia menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap apa yang dia sebut sebagai keadilan sejati dan setara yang menghormati kedaulatan dan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China laporkan penurunan kasus kejahatan keuangan, tetapi tingkat kejadiannya masih tinggi
Indonesia
•
30 Dec 2023

Israel tarik pasukan dari beberapa wilayah Khan Younis dan Deir al-Balah, sebut misi tuntas
Indonesia
•
31 Aug 2024

Israel tingkatkan kesiapan militer di dekat Gaza
Indonesia
•
25 Feb 2025

49 negara nikmati visa wisata Saudi untuk pertama kali
Indonesia
•
27 Sep 2019


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
