Feature – Laksamana Cheng Ho dan Indonesia: Jejak pelayaran 600 tahun yang masih hidup hingga kini

Foto dokumentasi ini menunjukkan sebuah patung Zheng He (Laksamana Cheng Ho) di Provinsi Yunnan, China barat daya. (Xinhua)

Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di pesisir selatan Danau Dianchi di Kunming, Provinsi Yunnan, China barat daya, sebuah kampung halaman yang pernah terhubung dengan salah satu pelayaran maritim paling luar biasa di dunia kini mengisahkan jalinan persahabatan yang telah bertahan selama lebih dari enam abad.

Distrik Jinning, yang dikenal sebagai kampung halaman pelaut tersohor China Zheng He (Laksamana Cheng Ho), terus melestarikan warisan sejarahnya sembari memanfaatkan budaya untuk menjalin hubungan baru antara orang-orang dari berbagai negara.

Lebih dari 600 tahun lalu, Zheng He memimpin tujuh pelayaran melintasi samudra pada masa Dinasti Ming, mengomandoi armada besar yang mengarungi lebih dari 30 negara dan wilayah di Asia dan Afrika, termasuk kawasan yang kini menjadi bagian dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Dalam pelayaran tersebut, armada Zheng He membawa beragam komoditas khas China seperti porselen dan teh, sembari melakukan pertukaran pengetahuan pertanian, kerajinan tangan, serta kebudayaan dengan masyarakat di sepanjang jalur pelayaran tersebut. Perjalanan monumental ini meninggalkan warisan berupa pertukaran damai dan saling pengertian.

Kini, semangat tersebut terus bergelora di Jinning, dengan kampung halaman Zheng He tersebut telah bertransformasi menjadi destinasi budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Di Taman Zheng He, sejumlah landmark termasuk Balai Peringatan Zheng He, Menara Sanbao, dan Hutan Prasasti Zheng He terus melestarikan kenangan sang pelaut legendaris tersebut.

Situs ini memberikan gambaran sekilas kepada pengunjung tentang kehidupan Zheng He dan sejarah pertukaran maritim.

Dalam beberapa tahun terakhir, museum tersebut telah menyambut kedatangan para pengunjung dari 20 lebih negara dan kawasan, menyediakan platform bagi masyarakat di seluruh dunia untuk mengenal kisah Zheng He dan kebudayaan maritim China.

Guna mendekatkan kebudayaan tradisional dengan kehidupan modern, Jinning terus mengeksplorasi cara-cara baru untuk memadukan kebudayaan Zheng He dengan sektor pariwisata dan industri kreatif.

Di sepanjang pesisir Danau Dianchi, distrik tersebut telah mengembangkan jajaran produk budaya bertema Zheng He dan meluncurkan pasar-pasar budaya yang menampilkan kebudayaan maritim, pengalaman warisan budaya takbenda, kuliner lokal, dan pemandangan tepi danau.

Para pengunjung dapat menikmati pesona alam danau sembari menemukan kisah-kisah yang berkaitan dengan jalur maritim kuno.

Jinning juga gencar mempromosikan penelitian akademis dan pertukaran budaya internasional terkait Zheng He. Melalui berbagai pameran, platform daring, dan kegiatan budaya, distrik tersebut terus memperkenalkan warisan sejarah Zheng He kepada khalayak global yang lebih luas.

Di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, nama Laksamana Cheng Ho tetap familiar, dengan banyak komunitas yang terus merawat kenangan akan pelayaran dan pertukaran budayanya. Perjalanan bersejarahnya telah menjadi simbol keterikatan erat yang terjalin sejak lama antara China dan Asia Tenggara.

Dalam gelaran Festival Kebudayaan dan Pariwisata Zheng He Kunming 2026 di Jinning, para tamu dari berbagai bidang berkumpul di kampung halaman Zheng He tersebut untuk mengeksplorasi kebudayaan maritim serta mempromosikan dialog antarbudaya.

Pameran bertema yang diselenggarakan bersama Museum Budaya Laksamana Cheng Ho di Malaka, Malaysia, semakin menegaskan pertukaran antarbudaya yang beragam.

Kini, Jinning memadukan warisan budayanya dengan sumber daya ekologis di sekitar Danau Dianchi untuk mengembangkan pariwisata pedesaan, penginapan (homestay) dan pengalaman budaya.

Dari pesisir Danau Dianchi hingga ke perairan Asia Tenggara, ‘layar keharmonisan’ yang terilhami oleh pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zheng He) terus melaju ke depan, membawa kisah-kisah persahabatan, saling pengertian, serta pertukaran budaya antarperadaban. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait