
Jejak Sang Laksamana Muslim: Ketika Cheng Ho menjadikan Nusantara persimpangan dunia

Ilustrasi. (Zoltan Tasi on Unsplash)
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Fajar baru saja merekah di ufuk timur ketika ratusan layar raksasa mulai meninggalkan pelabuhan Nanjing pada musim panas 1405.
Dari kejauhan, armada itu tampak seperti sebuah kota yang terapung di atas air. Di dalamnya terdapat lebih dari 27.000 awak, ratusan kapal, ahli navigasi, juru bahasa, tabib, ulama, pedagang, hingga diplomat.
Memimpin semuanya adalah seorang laki-laki bernama Ma He, yang lebih dikenal dunia sebagai Laksamana Cheng Ho atau Zheng He.
Dia bukan seorang bangsawan, juga bukan putra seorang jenderal. Cheng Ho lahir pada 1371 di Yunnan dari keluarga Muslim Hui yang taat.
Ayah dan kakeknya diketahui telah menunaikan ibadah haji ke Makkah, sehingga keluarga mereka menyandang gelar ‘haji’. Tradisi Islam telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil, jauh sebelum ia kemudian menjadi salah satu tokoh pelayaran terbesar dalam sejarah dunia.
Edward L. Dreyer mencatat bahwa identitas Muslim Cheng Ho bukan sekadar latar belakang keluarga, tetapi turut membentuk relasinya dengan komunitas-komunitas Islam yang ditemuinya di sepanjang Samudra Hindia.
Takdir membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda. Ketika Dinasti Ming (1368 - 1644) menaklukkan Yunnan, Ma He yang masih belia ditawan dan dibawa ke istana.
Di sanalah dia kemudian mengabdi kepada Pangeran Zhu Di, yang kelak naik takhta sebagai Kaisar Yongle.
Kecerdasan, keberanian, dan kemampuannya memimpin membuat sang kaisar mempercayakan kepadanya sebuah misi yang belum pernah disaksikan dunia: memimpin armada laut terbesar pada zamannya.
Selama hampir tiga dekade, antara 1405 hingga 1433, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi besar melintasi Laut China Selatan, Samudra Hindia, hingga pantai timur Afrika.
Berbeda dengan pelayaran bangsa Eropa yang datang beberapa dekade kemudian untuk menaklukkan wilayah baru, armada Ming membawa misi diplomasi, perdagangan, dan pembentukan jaringan politik.
Louise Levathes dalam ‘When China Ruled the Seas’ menggambarkan armada Cheng Ho sebagai simbol kekuatan maritim sekaligus instrumen diplomasi global pertama yang benar-benar terorganisasi dalam skala antarbenua.
Di antara berbagai wilayah yang disinggahinya, Nusantara menempati posisi yang sangat penting.
Kala itu, kepulauan Indonesia berada di persimpangan jalur perdagangan antara India, Timur Tengah, dan China.
Setiap kapal yang hendak menuju Kepulauan Rempah hampir pasti melewati Selat Malaka dan pesisir utara Jawa. Karena itulah armada Cheng Ho berulang kali singgah di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, mulai dari Palembang, Semudera Pasai, hingga Gresik, Tuban, dan Semarang.
Catatan Ma Huan—seorang Muslim yang ikut dalam pelayaran Cheng Ho dan menulis ‘Ying-yai Sheng-lan’ (The Overall Survey of the Ocean's Shores)—menjadi salah satu sumber primer paling penting mengenai kehidupan masyarakat Asia Tenggara pada awal abad ke-15.
Dia menggambarkan pelabuhan-pelabuhan Jawa sebagai kota dagang yang ramai, dihuni masyarakat lokal, pedagang China, Arab, Gujarat, dan komunitas Muslim yang telah berkembang di beberapa wilayah pesisir.
Di Palembang, Cheng Ho membantu menumpas kelompok bajak laut yang selama bertahun-tahun mengganggu pelayaran di Selat Malaka. Tindakan itu bukan sekadar operasi militer, melainkan upaya menjaga keamanan jalur perdagangan internasional.
Setelah ancaman tersebut berakhir, arus perdagangan antara Asia Timur dan Asia Tenggara kembali mengalir lebih lancar.
Geoff Wade dari National University of Singapore menilai bahwa stabilitas jalur laut merupakan salah satu tujuan utama ekspedisi Ming di Asia Tenggara.
Namun, yang membuat Cheng Ho dikenang di Indonesia bukan hanya kemampuan militernya.
Sebagai seorang Muslim, dia menjalin hubungan yang hangat dengan komunitas-komunitas Islam yang telah tumbuh di pesisir Nusantara.
Sejumlah penelitian modern membedakan secara tegas antara fakta sejarah dan legenda. Tidak semua kisah yang mengaitkan Cheng Ho dengan Islamisasi Jawa dapat diverifikasi secara historis. Akan tetapi, para sejarawan sepakat bahwa kehadiran armadanya memperkuat hubungan antara komunitas Muslim China dengan masyarakat pesisir Nusantara serta memperluas jaringan perdagangan Islam di kawasan.
Hal itu dibahas oleh Sumanto Al Qurtuby dalam ‘The Imprint of Zheng He and Chinese Muslims in Indonesia's Past’ serta Leo Suryadinata dalam kajian mengenai Semarang dan Islamisasi Jawa.
Karena itu pula, nama Cheng Ho tetap hidup dalam ingatan masyarakat Indonesia.
Di Semarang berdiri Masjid Cheng Ho yang menjadi simbol persahabatan budaya Tionghoa dan Islam. Di berbagai kota pesisir, cerita mengenai sang laksamana diwariskan turun-temurun, meski sebagian telah bercampur dengan legenda.
Yang menarik, pelayaran Cheng Ho menunjukkan wajah lain dari sejarah maritim Asia.
Kapal-kapalnya memang membawa pasukan, tetapi juga membawa dokter, ahli astronomi, penerjemah, cendekiawan, dan para pedagang. Mereka menukar pengetahuan tentang navigasi, tanaman, bahasa, teknologi, hingga kebudayaan.
Sejarawan Tan Ta Sen menyebut ekspedisi Cheng Ho sebagai salah satu momentum terpenting yang mempererat hubungan antara China dan dunia Islam di Asia Tenggara.
Ironisnya, setelah pelayaran ketujuh berakhir, Dinasti Ming perlahan menghentikan ekspedisi maritim berskala besar. Sebagian catatan pelayaran menghilang, kapal-kapal raksasa tidak lagi dibuat, dan perhatian kekaisaran beralih ke daratan.
Sementara itu, beberapa dekade kemudian, armada-armada Portugis mulai memasuki Samudra Hindia dan akhirnya mencapai Nusantara pada awal abad ke-16. Pusat perdagangan dunia pun memasuki babak baru.
Meski demikian, jejak Cheng Ho tidak ikut tenggelam bersama waktu. Kisahnya mengingatkan bahwa jauh sebelum kolonialisme Eropa mendominasi lautan, Samudra Hindia telah menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa yang dihubungkan oleh perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya.
Di tengah kisah itu berdiri seorang laksamana Muslim dari Yunnan, yang memimpin armada terbesar pada zamannya dan berulang kali berlabuh di Nusantara.
Bukan untuk mendirikan koloni, melainkan untuk membuka jalur persahabatan antarpelabuhan. Dari Palembang hingga pesisir Jawa, jejak pelayarannya menjadi bagian dari sejarah Indonesia—sebuah kisah tentang lautan yang lebih sering menyatukan manusia daripada memisahkan mereka.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Konstruksi Stasiun Padalarang untuk KCJB sedang berlangsung
Indonesia
•
08 May 2023

COVID-19 – Indonesia terima 1 juta dosis vaksin Sinopharm
Indonesia
•
12 Jun 2021

Iran berikan dukungan politik penuh untuk Palestina di tengah ancaman Barat
Indonesia
•
31 Oct 2023

Kamboja musnahkan narkotika dan bahan kimia prekursor sitaan senilai jutaan dolar AS
Indonesia
•
15 Jun 2024


Berita Terbaru

Sebelum nikah dicatat, penghulu pastikan tiga hal ini
Indonesia
•
07 Jul 2026

Laut di sekitar Sumatra mencatat rekor panas, ancam perikanan dan ekonomi Indonesia
Indonesia
•
08 Jul 2026

Narendra Modi tegaskan penguatan kerja sama strategis Indonesia–India
Indonesia
•
08 Jul 2026

Presiden Prabowo, PM Wong sepakati 26 dokumen kerja sama
Indonesia
•
07 Jul 2026
