Dari warisan local hingga inovasi teknologi, AICIS+ 2026 libatkan kampus umum dan pesantren

Rapat koordinasi Persiapan The 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026, Jumat (21/8/2026) malam. (Kementerian Agama RI)

AICIS+ 2026 diarahkan menjadi ruang untuk membahas masa depan peradaban Islam dengan menghubungkan warisan lokal, inovasi teknologi, dan pengembangan manusia.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan gelaran The 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada 17-20 November 2026.

Konferensi internasional tersebut diarahkan menjadi ruang untuk membahas masa depan peradaban Islam dengan menghubungkan warisan lokal, inovasi teknologi, dan pengembangan manusia.

AICIS+ 2026 mengusung tema ‘Revitalizing Islamic Civilization for Sustainable Life: Local Heritage, Technological Innovation, and Human Flourishing’. Persiapan konferensi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di Cirebon, Jumat (21/8) malam. 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, meminta AICIS+ tahun ini tidak menjadi sekadar agenda rutin tahunan.

Menurutnya, kata ‘Plus’ dalam AICIS+ harus tercermin dalam substansi akademiknya. Forum ini harus mempertemukan kajian Islam dengan ilmu sosial serta sains dan teknologi.

"Sejak awal penamaan AICIS Plus, kita tidak ingin kajian ini hanya terpaku pada diskursus keislaman yang statis. Kita telah bertransformasi dengan melibatkan disiplin ilmu sosial dan sains. Hal ini menegaskan bahwa AICIS secara nyata telah mewujudkan integrasi keilmuan," kata Suyitno.

Suyitno juga meminta panitia menampilkan produk inovasi sains karya mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Menurutnya, hasil riset dan inovasi tersebut penting ditampilkan untuk membuktikan bahwa kampus keagamaan mampu berkontribusi dalam perkembangan sains dan teknologi.

Tak hanya menggandeng PTKI, jejaring AICIS+ juga diminta diperluas ke perguruan tinggi umum. Suyitno menyebut Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai kampus yang dapat diajak berkolaborasi.

"Kita tidak boleh terus-menerus membatasi diri dengan hanya berkolaborasi di lingkungan internal kita saja, karena hal tersebut tidak akan membawa kemajuan yang signifikan. Tujuan utama dari pelibatan pihak luar ini adalah untuk mengakselerasi kesetaraan mutu," ujarnya.

Dia juga meminta panitia memastikan kualitas akademik AICIS+ tetap terjaga. Hal ini dinilai penting di tengah banyaknya forum internasional yang digelar, namun belum tentu memiliki standar akademik yang kuat.

Suyitno juga meminta perkembangan persiapan diukur berdasarkan data.

Jumlah pendaftar dan abstrak yang masuk harus dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Saya meminta agar tren partisipasi ini dievaluasi dengan membandingkannya pada periode waktu yang sama di tahun sebelumnya. Kita perlu melihat perbandingan jumlah abstrak yang masuk serta kesiapan narasumber menjelang hari pelaksanaan. Jika grafiknya menunjukkan penurunan, maka langkah persiapan dan strategi kita harus segera diakselerasi," tegasnya.

Madrasah dan pesantren dilibatkan

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, mengatakan AICIS+ 2026 perlu dirancang sebagai ruang kolaborasi yang lebih luas.

Menurutnya, peserta dan mitra AICIS+ tidak hanya berasal dari perguruan tinggi dan kalangan akademisi. Madrasah berprestasi, pesantren, dan mitra strategis lainnya juga perlu dilibatkan.

"Dalam gelaran AICIS+ di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon juga perlu dilakukan kolaborasi dengan madrasah yang memiliki prestasi dan penghargaan, baik nasional maupun internasional, pesantren, serta mitra lainnya," tegas Prof. Sahiron.

Dia menilai madrasah dan pesantren memiliki potensi besar untuk memperkuat ekosistem pendidikan Islam. Apalagi, sejumlah madrasah dan pesantren telah memiliki prestasi hingga tingkat nasional dan internasional.

Pelibatan tersebut juga dinilai sejalan dengan tema AICIS+ 2026 yang mengangkat local heritage. Tradisi, budaya, dan kreativitas yang berkembang di madrasah serta pesantren dapat menjadi bagian dari narasi revitalisasi peradaban Islam.

445 author registrasi

Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Ditjen Pendidikan Islam, Nur Khafid, melaporkan perkembangan pendaftaran AICIS+ 2026.

Panitia mencatat 445 author telah melakukan registrasi. Dari jumlah tersebut, 72 author telah mengirimkan abstrak. "Sampai dengan hari ini sudah ada 445 author yang teregister atau sudah meregistrasi, dengan yang sudah submit abstrak itu 72," kata Nur Khafid.

Pendaftaran dan pengumpulan abstrak berlangsung pada 10 - 30 Agustus 2026. Selain konferensi utama, panitia juga menyiapkan student competition (kompetisi mahasiswa).

Pengumuman dan pembukaan registrasi kompetisi mahasiswa berlangsung pada 10 Agustus-30 September 2026.

Informasi lengkap mengenai jadwal, pendaftaran, ketentuan abstrak, student competition, dan rangkaian AICIS+ 2026 dapat diakses melalui situs resmi AICIS+ 2026: https://aicis.uinssc.ac.id/

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait