Indonesia-China susun strategi baru menuju 2045, empat bidang jadi titik sinkronisasi

Foto menunjukkan simposium bertajuk 'Menyelaraskan Modernisasi ala China dengan Indonesia Emas 2045: Peluang Baru dan Prospek Baru' yang berlangsung di Jakarta pada 20 Agustus 2026. (Sumber: BRIN)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Akademi Ilmu Sosial China (Chinese Academy of Social Sciences/CASS) membahas beragam peluang untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan China di berbagai bidang sebagai upaya menyelaraskan visi Indonesia Emas 2045 dengan kerangka modernisasi ala China.

Simposium bertajuk ‘Menyelaraskan Modernisasi ala China dengan Indonesia Emas 2045: Peluang Baru dan Prospek Baru’ (Aligning Chinese-Style Modernization with Golden Indonesia 2045: New Opportunities and New Prospects) tersebut menghadirkan sejumlah peneliti dari kedua lembaga dan berlangsung di kantor BRIN di Jakarta pada Kamis (20/8).

"Masing-masing negara memiliki mimpi yang besar. China dengan upaya modernisasinya dan Indonesia dengan visi Indonesia Emas 2045. Karena itu, penting bagi kita untuk mengomunikasikan kedua visi tersebut dan mencari upaya bersama untuk mewujudkannya," kata Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami dalam simposium itu.

Deputi Direktur Institut Ekonomi Industri CASS Li Pengfei memaparkan empat titik sinkronisasi strategis untuk menyelaraskan kerangka modernisasi ala China dengan visi Indonesia Emas 2045, yakni peningkatan industri, transformasi hijau, digitalisasi, dan konektivitas.

Indonesia dinilai memiliki sejumlah potensi, seperti kekayaan sumber daya alam, populasi generasi muda, dan peluang ekonomi digital. Di sisi lain, China mampu melengkapi potensi ini dengan keahlian di berbagai bidang teknologi dan manufaktur hingga infrastruktur digital.

Kedua negara juga masih memiliki ruang kerja sama yang luas di bidang keamanan.

Peneliti di Pusat Riset Politik BRIN, M. Haripin, menilai kerja sama kedua negara di bidang keamanan saat ini masih belum semasif kemitraan ekonomi dan investasi. Beberapa peluang kolaborasi mencakup antara lain kerja sama industri pertahanan, seperti produksi bersama oleh perusahaan dari kedua negara dan transfer teknologi, hingga penyelenggaraan latihan bersama.

M. Haripin juga menyoroti peluang kerja sama di bidang pembangunan berkelanjutan, termasuk di sektor geotermal dan penyediaan kompor induksi.

Kerja sama tersebut dinilai tidak hanya relevan dengan target transisi hijau Indonesia, tetapi juga membuka peluang untuk transfer pengetahuan dan teknologi.

Direktur Center for Southeast Asian Studies di Institut Nasional Strategi Internasional CASS Xu Liping menyebut banyak peluang sinergi antara kedua negara melalui kerangka kerja sama Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

"Pembangunan BRI berkualitas tinggi akan mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi kerja sama nyata, serta memperluas ruang lingkup bagi pendalaman kerja sama Indonesia-China," ungkapnya. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait