
Bukan musuh, virus ini justru bisa membersihkan polusi tanah dan air

Foto yang diabadikan pada 2 Juli 2024 ini memperlihatkan suasana Flinders Street Station di Melbourne, Australia. (Xinhua/Ma Ping)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan di Australia mengatakan bahwa virus yang "bersahabat" dapat meningkatkan kemampuan bakteri dalam menghilangkan polutan dari tanah, air, limbah pertambangan dan lingkungan lainnya, menawarkan perangkat baru yang menjanjikan bagi upaya remediasi lingkungan.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Universitas Flinders di Australia mengatakan bahwa "bioaugmentasi" virus fag (phage virus) menawarkan arah baru yang menjanjikan bagi bioteknologi lingkungan, dengan memanfaatkan peran ekologis fag lisogenik untuk meningkatkan proses penguraian kontaminan oleh mikroba, menurut pernyataan universitas yang dirilis pada Selasa (30/6).
Para peneliti mengusulkan pemanfaatan bakteriofag lisogenik, yakni virus yang menyatu ke dalam genom bakteri tanpa membunuh inangnya, untuk memperkuat kemampuan genetik bakteri dalam proses bioremediasi.
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology, pendekatan yang dikenal sebagai bioaugmentasi fag ini dapat meningkatkan efisiensi bioremediasi tradisional, yang kerap berjalan lambat dan dibatasi oleh kendala lingkungan terhadap efektivitas mikroba.
Tim peneliti menemukan bahwa fag-fag ini dapat memasukkan gen-gen metabolik tambahan ke dalam bakteri, sehingga memperkuat kemampuannya untuk mendegradasi polutan seperti logam berat, pestisida, dan hidrokarbon minyak bumi.
Para peneliti mengatakan bahwa pencemaran tanah dan jalur air masih menjadi persoalan global yang mengancam kesehatan manusia, produktivitas pertanian, keseimbangan ekologis, serta pasokan air minum.
Mereka memperingatkan bahwa sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala lapangan, kerangka regulasi perlu menangani sejumlah isu keamanan hayati, yang meliputi potensi perpindahan gen, ketahanan, dan dampaknya terhadap organisme nontarget.
"Jika dimanfaatkan dengan baik, bioaugmentasi fag dapat digunakan dalam kondisi terkendali untuk membantu memulihkan lingkungan yang tercemar dan meningkatkan ketahanan mikroba," ujar peneliti Universitas Flinders, Niki Romeo, yang juga merupakan penulis utama studi tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Dua teleskop radio baru China mulai beroperasi untuk dukung eksplorasi antariksa dalam
Indonesia
•
31 Dec 2024

Kru misi ke-6 SpaceX NASA lakukan persiapan untuk peluncuran ke ISS
Indonesia
•
22 Feb 2023

Perusahaan swasta Rusia membuat kluster orbital untuk 510 satelit
Indonesia
•
21 Oct 2020

LIPI gunakan aplikasi MONMANG pantau mangrove
Indonesia
•
07 Aug 2020


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
