
Studi ungkap restorasi lahan basah pangkas emisi karbon dan perkuat ketahanan terhadap kekeringan

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 29 Oktober 2024 ini menunjukkan pemandangan lahan basah Tiaozini di Dongtai di Kota Yancheng, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Li Bo)
Lahan basah dataran banjir yang terdegradasi dan direstorasi di sepanjang Sungai Loddon di Victoria, Australia, menemukan manfaat pengelolaan air dan iklim yang cepat dari restorasi.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Restorasi lahan basah dataran banjir di Australia secara signifikan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketahanan terhadap banjir serta kekeringan hanya dalam waktu satu tahun, menurut penelitian terbaru yang dirilis pada Kamis (17/7).Para peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT University) Australia meneliti lahan basah dataran banjir yang terdegradasi dan direstorasi di sepanjang Sungai Loddon di Victoria, Australia, menemukan manfaat pengelolaan air dan iklim yang cepat dari restorasi."Pemulihan lahan basah dapat menjadi senjata rahasia dalam menghadapi perubahan iklim," ujar Lukas Schuster, penulis utama studi tersebut dari Pusat Solusi Positif untuk Alam di RMIT University.Studi tersebut menunjukkan bahwa lahan basah yang telah direstorasi mampu mengurangi emisi karbon sebesar 39 persen dalam waktu satu tahun dan meningkatkan kandungan karbon tanah sebesar 12 persen tanpa adanya lonjakan metana seperti yang biasa terjadi pada restorasi lahan gambut. Sementara itu, lokasi yang tidak dipulihkan justru mengalami peningkatan emisi karbon sebesar 169 persen dan penurunan kandungan karbon tanah sebesar 10 persen.Lahan basah yang telah direstorasi meningkatkan kelembapan tanah sebesar 55 persen, mendongkrak ketahanan terhadap kekeringan dan memperkuat penyimpanan karbon permukaan, menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Management yang berbasis di London.Lahan basah yang telah direstorasi mengalami pemulihan vegetasi asli dan pelambatan proses pembusukan lapisan daun mati, yang meningkatkan retensi karbon dalam tanah serta menaikkan kadar nitrogen sebesar 45 persen, meningkatkan kualitas air dan mengurangi risiko ledakan populasi alga, kata Schuster.Manfaat jangka panjangnya telah dikonfirmasi melalui pemantauan terhadap sebuah lahan basah enam tahun pascarestorasi. Cadangan karbon organik permukaan lahan basah tersebut mengalami lonjakan sebesar 53 persen, menurut para peneliti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Inisiatif untuk lindungi gletser diluncurkan di Paviliun China dalam COP28
Indonesia
•
04 Dec 2023

Robot disinfeksi sterilkan Masjidil Haram 2.000 meter persegi per jam
Indonesia
•
28 Oct 2021

China kembangkan baterai logam lithium cetak 3D dengan kepadatan energi tinggi
Indonesia
•
29 Oct 2022

Jumlah bangau putih oriental yang terlihat di cagar alam Shanghai catatkan rekor
Indonesia
•
25 Nov 2023


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
