AS serang lokasi PLTN Iran, ketegangan di Selat Hormuz memanas lagi

Foto yang diabadikan pada 20 April 2026 ini menunjukkan bendera nasional Iran yang terpasang pada sebuah bangunan yang rusak akibat serangan Amerika Serikat-Israel di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin di Provinsi Khuzestan, Iran barat daya, diserang proyektil Amerika Serikat (AS) pada Ahad (19/7), sebut Organisasi Energi Atom Iran (Atomic Energy Organization of Iran/AEOI).

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs jejaring resminya, AEOI mengatakan serangan tersebut terjadi pada pukul 03.39 waktu setempat (07.09 WIB), menyebutnya sebagai "tindakan agresif dan brutal" yang melanggar kedaulatan nasional Iran serta hukum internasional.

AEOI tidak menyebutkan apakah ada korban atau kerusakan material akibat serangan tersebut.

Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran pada Ahad mengatakan pihaknya telah menghentikan dua kapal yang melakukan "pelanggaran" karena berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute yang tidak aman.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di media resmi IRGC, Sepah News, angkatan laut tersebut menyatakan bahwa empat kapal yang melakukan "pelanggaran" mengabaikan peringatan, mematikan sistem navigasi mereka, dan berusaha menimbulkan "gangguan" di selat tersebut serta melintasinya melalui rute yang tidak aman dengan dukungan AS.

Lebih lanjut angkatan laut tersebut menyatakan bahwa dua kapal di antaranya "mengalami kecelakaan" dan dihentikan, sedangkan dua kapal lainnya dihalangi sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan di rute mereka.

Angkatan laut IRGC menyatakan selat itu berada di bawah kendali penuh pasukannya, dan satu-satunya rute aman untuk melintasi perairan tersebut adalah jalur yang telah ditetapkan oleh Iran.

Tidak ada minyak, gas, maupun pupuk kimia yang dapat diangkut melalui selat itu tanpa koordinasi dengan Iran dan izinnya, tambah angkatan laut tersebut.

Iran telah memperketat kendalinya atas Selat Hormuz sejak 28 Februari, ketika negara tersebut melarang jalur aman bagi kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.

Selama beberapa hari terakhir, AS telah melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran, mengeklaim bahwa serangan-serangan tersebut merupakan respons atas tindakan angkatan bersenjata Iran yang menargetkan kapal-kapal di selat itu, serta ditujukan untuk "melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial."

Pada Sabtu (18/7), Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS menyatakan pasukan AS telah rampung melancarkan putaran kedelapan serangan terhadap "fasilitas pengawasan pesisir dan pertahanan udara, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone militer Iran," sementara lebih dari 50.000 tentara AS di Timur Tengah tetap dalam kondisi "sangat waspada."

Iran telah membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan dan fasilitas AS di kawasan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait