
Material daur ulang hayati dorong terwujudnya elektronik berkelanjutan

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan pelanggan memilih-milih kamera CCD di sebuah toko di pusat elektronik terkenal China, Huaqiangbei, di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 5 November 2024. (Xinhua/Wang Feng)
Material daur ulang hayati untuk manufaktur elektronik menawarkan pendekatan baru untuk meningkatkan siklus penggunaan material elektronik dan berkontribusi pada terciptanya industri elektronik yang lebih berkelanjutan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China baru-baru ini menciptakan material yang dapat didaur ulang secara hayati untuk manufaktur elektronik, menawarkan pendekatan baru untuk meningkatkan siklus penggunaan material elektronik dan berkontribusi pada terciptanya industri elektronik yang lebih berkelanjutan.Akumulasi limbah elektronik yang pesat telah menjadi isu global yang semakin mendesak. Pengembangan elektronik berkelanjutan diharapkan dapat mengatasi masalah ini. Namun, pendekatan daur ulang yang ada saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti penurunan kinerja material hasil daur ulang, tingginya konsumsi energi, serta kondisi proses daur ulang yang keras.Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Yu Shuhong dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China (University of Science and Technology of China/USTC) merancang dan membuat film dielektrik komposit berbasis selulosa, bahan yang umum digunakan dalam manufaktur elektronik, dengan mengintegrasikan strategi biomanufaktur dengan proses degradasi enzimatik.Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability, strategi biomanufaktur dapat memproses glukosa dan blok bangunan fungsional menjadi bahan komposit fungsional berbasis selulosa, sementara degradasi enzim dapat mengubah selulosa kembali menjadi glukosa tanpa memengaruhi komponen lain.Kedua proses biologis ini bersifat ringan, tidak memerlukan suhu dan tekanan yang tinggi maupun bahan kimia beracun, sehingga memungkinkan siklus tertutup dari bahan baku hingga menjadi produk dan limbah, tanpa mengorbankan kinerja bahan daur ulang.Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perangkat elektronik yang menggunakan material baru ini memiliki tingkat kehilangan sinyal yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan perangkat yang menggunakan substrat resin epoksi komersial. Bahan berbasis selulosa yang diproduksi secara hayati ini juga memiliki biaya produksi yang sebanding, sekaligus secara signifikan mengurangi dampak lingkungan.Laporan dari Persatuan Telekomunikasi Internasional (International Telecommunication Union/ITU) menyebutkan bahwa sekitar 62 miliar kilogram limbah elektronik dihasilkan secara global pada 2022, dengan hanya 22,3 persen di antaranya didaur ulang secara ramah lingkungan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China luncurkan sistem pemantauan satelit lingkungan ekologis
Indonesia
•
19 Apr 2023

Keanekaragaman hayati di Beijing berkembang berkat peningkatan perlindungan margasatwa
Indonesia
•
07 Sep 2023

China rilis katalog 105 bank plasma nutfah tanaman tropis
Indonesia
•
29 Sep 2024

AI tingkatkan konservasi burung di danau air tawar terbesar di China
Indonesia
•
25 Nov 2023


Berita Terbaru

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026
