
Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000

Seorang anak yang menderita malanutrisi dirawat di sebuah rumah sakit di Sanaa, Yaman, pada 14 Desember 2024. (Xinhua/Mohammed Mohammed)
Penyebab utama kematian pada bayi baru lahir adalah komplikasi akibat kelahiran prematur dan komplikasi selama persalinan, serta infeksi, termasuk sepsis neonatal dan kelainan bawaan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Di seluruh dunia, kematian anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) telah menurun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (18/3) oleh Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).
Namun, laju penurunan angka kematian anak melambat lebih dari 60 persen sejak 2015, menurut laporan ‘Levels & Trends in Child Mortality’.
Pada 2024 diperkirakan 4,9 juta anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, termasuk 2,3 juta bayi baru lahir, dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah dengan intervensi yang terbukti efektif dan berbiaya rendah serta akses ke layanan kesehatan berkualitas.
Kematian bayi baru lahir menyumbang hampir setengah dari semua kematian anak di bawah usia lima tahun, mencerminkan kemajuan yang lebih lambat dalam mencegah kematian di sekitar waktu kelahiran, kata laporan itu.
Penyebab utama kematian pada bayi baru lahir adalah komplikasi akibat kelahiran prematur dan komplikasi selama persalinan, ungkap laporan itu, menambahkan bahwa infeksi, termasuk sepsis neonatal dan kelainan bawaan, juga merupakan faktor penting.
Untuk pertama kalinya, laporan tersebut memperkirakan kematian yang secara langsung disebabkan oleh malanutrisi akut parah, dan menemukan lebih dari 100.000 anak berusia satu hingga 59 bulan meninggal akibat kondisi tersebut pada 2024.
Kematian anak masih sangat terkonsentrasi secara geografis. Pada 2024, Afrika sub-Sahara menyumbang 58 persen dari semua kematian anak balita, diikuti kawasan Asia Selatan dengan 25 persen, menurut laporan tersebut.
"Demi mempercepat kemajuan dan menyelamatkan nyawa, UNICEF menyerukan kepada pemerintah, donor, dan mitra untuk menjadikan kelangsungan hidup anak sebagai prioritas politik dan pendanaan, untuk fokus pada mereka yang berisiko paling tinggi, memperkuat akuntabilitas, dan berinvestasi dalam sistem perawatan kesehatan primer," kata Farhan Haq, wakil juru bicara sekretaris jenderal PBB, dalam sebuah taklimat harian.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Militer Israel serang tempat tinggal staf dan gudang WHO di gaza
Indonesia
•
23 Jul 2025

COVID-19 – Kasus kematian mungkin 3 kali lebih tinggi dari yang tercatat
Indonesia
•
19 Mar 2022

COVID-19 – Hanya 4 persen warga AS telah disuntik ‘booster’
Indonesia
•
11 Oct 2022

CNN: Anak-anak dan remaja AS lebih berpotensi tewas akibat senjata api
Indonesia
•
07 Apr 2023


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
