
Alarm flu burung H5N1 di Selandia Baru, virus diperkirakan jadi endemik dalam hitungan bulan

Foto yang diabadikan pada 4 November 2023 ini menunjukkan puteketeke atau burung grebe jambul Australasia di Selandia Baru. (Xinhua/Peter Foulds)
Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Galur flu burung H5N1 yang baru terdeteksi berpotensi menjadi endemik di Selandia Baru dalam hitungan bulan, setelah negara itu mencatat kasus pertama pada seekor burung laut liar, demikian disampaikan seorang pejabat veteriner senior pada Kamis (16/7).
Kepala Petugas Veteriner Kementerian Industri Primer Selandia Baru Mary van Andel mengatakan kepada Radio New Zealand (RNZ) bahwa upaya pemberantasan kemungkinan tidak akan berhasil apabila virus tersebut menetap di populasi satwa liar.
Pada Rabu (15/7), virus H5 dikonfirmasi pada seekor burung laut yang ditemukan di Pantai Petone di Wellington, ibu kota Selandia Baru, menandai temuan pertama negara itu di tengah wabah global yang menyebar luas di kalangan burung liar.
"Isolasi Selandia Baru tidak akan mampu menghalangi masuknya virus burung mematikan ini," kata Profesor Dianne Brunton dari Fakultas Ilmu Biologi Universitas Auckland.
Menurutnya, meskipun belum ada bukti kematian massal satwa liar maupun penularan antarburung di Selandia Baru, H5N1 kemungkinan akan menetap seiring waktu.
Van Andel mengatakan virus tersebut dapat menular dari burung ke manusia, tetapi kasus seperti itu tergolong langka. Dia juga menegaskan bahwa keamanan pangan tidak terdampak.
Profesor Jemma Geoghegan, ahli virologi dari Universitas Otago, mengatakan Selandia Baru telah mempersiapkan diri menghadapi kedatangan virus tersebut setelah penyebarannya baru-baru ini ke Australia dan secara global.
Menurut Geoghegan, pengujian cepat, pengurutan genom dan pemantauan ketat terhadap burung liar sangatlah penting.
Departemen Konservasi telah memulai vaksinasi terhadap 300 ekor burung indukan dari lima spesies yang termasuk dalam kelompok spesies paling terancam punah di Selandia Baru, termasuk kakapo dan takahe, sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan.
Epidemiolog dari Universitas Massey, Nigel French, mengatakan kepada RNZ bahwa populasi burung yang kecil dan terancam punah, termasuk burung camar peri (fairy tern) yang sangat langka, dapat mengalami kepunahan apabila virus tersebut menyebar.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Serangan 'drone' Israel tewaskan 2 anggota Hizbullah di Lebanon selatan
Indonesia
•
22 Jan 2024

Mahkamah Agung AS nyatakan kebijakan tarif menyeluruh pemerintahan Trump ilegal
Indonesia
•
21 Feb 2026

Iran sebut situasi regional positif, desak pemulihan hubungan dengan Arab Saudi
Indonesia
•
23 Aug 2022

China desak AS hentikan politisasi isu ekonomi, perdagangan, dan IPTEK
Indonesia
•
29 Nov 2022


Berita Terbaru

Krisis Afrika Timur memburuk, 40,5 juta orang kini terancam kelaparan
Indonesia
•
16 Jul 2026

Serangan AS ke Iran tewaskan 35 orang, ratusan lainnya terluka
Indonesia
•
16 Jul 2026

AS setujui penjualan senjata Rp35,4 Ttriliun kepada Arab Saudi di tengah memanasnya Timur Tengah
Indonesia
•
16 Jul 2026

Balas serangan AS, Iran hantam pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait
Indonesia
•
15 Jul 2026
