Papua Nugini tangguhkan impor ayam dan telur dari Australia setelah temuan flu burung H5N1

Ilustrasi. (Brooke Cagle on Unsplash)

Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Papua Nugini (Papua New Guinea/PNG) menangguhkan impor unggas dan telur dari Australia setelah dua kasus flu burung galur H5N1 yang mematikan terdeteksi pada burung liar di Australia Barat (Western Australia/WA).

Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Department of Agriculture, Fisheries and Forestry/DAFF) Australia menyatakan dalam sebuah pengumuman pada Selasa (23/6) bahwa Otoritas Inspeksi Pertanian dan Karantina Nasional (National Agriculture and Quarantine Inspection Authority) Papua Nugini memberlakukan penangguhan impor terhadap semua daging unggas dan produk unggas, termasuk telur, yang berlaku mulai Senin (22/6).

DAFF menyatakan bahwa Australia tetap bebas dari flu burung H5N1 yang sangat patogenik pada unggas sesuai dengan standar internasional Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization for Animal Health/WOAH).

Julie Collins, Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation pada Rabu (24/6) bahwa pemerintah federal sedang berkoordinasi langsung dengan Papua Nugini untuk mencabut pembatasan perdagangan tersebut.

"Kami terus memantau secara ketat temuan flu burung H5 pada satwa liar dan secara aktif berupaya memberikan jaminan yang diperlukan kepada mitra dagang secara lebih luas," katanya.

Sementara itu, Ingham's, produsen unggas terbesar di Australia, pada Senin mengumumkan akan menerapkan penutupan total (complete lockdown) terhadap seluruh operasinya di WA guna memitigasi potensi risiko yang ditimbulkan oleh flu burung.

Nilai ekspor daging ayam Australia mencapai rekor tertinggi sebesar 133 juta dolar Australia pada tahun 2023-2024, termasuk 60 juta dolar Australia untuk ekspor ke Papua Nugini. 

*1 dolar Australia = 12.413 rupiah

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait