
UEA keluar dari OPEC, sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang

Foto yang diabadikan pada 30 November 2023 ini menunjukkan kantor pusat Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) di Wina, Austria. (Xinhua/He Canling)
UEA mundur dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei, sehingga lebih lanjut melemahkan pengaruh kartel terhadap pasokan serta harga minyak global.
Dubai, Uni Emirat Arab (Xinhua/Indonesia Window) – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), merupakan "pilihan berdaulat dan strategis" yang didasarkan pada visi ekonomi jangka panjang negara tersebut, kata Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Mahash Al Hameli pada Selasa (28/4).
"Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC adalah pilihan berdaulat dan strategis yang berlandaskan visi ekonomi jangka panjang negara ini," tulis Al Hameli di platform X. Dia mengatakan langkah tersebut akan memberi UEA fleksibilitas yang lebih besar dalam memanfaatkan kapasitas energinya, memperkuat pembangunan nasional, meningkatkan kepercayaan pasar, serta mendukung stabilitas energi global.
Sebelumnya pada Selasa yang sama, UEA mengumumkan akan mundur dari OPEC dan aliansinya yang lebih luas, OPEC+, efektif mulai 1 Mei, sehingga mencoret produsen terbesar ketiga tersebut dari kelompok itu dan lebih lanjut melemahkan pengaruh kartel terhadap pasokan serta harga minyak global. Kalangan analis memperkirakan bahwa dengan keluarnya UEA, OPEC kehilangan sekitar 15 persen kapasitasnya.
Al Hameli mengatakan UEA akan tetap bekerja sama erat dengan para mitra, memperdalam kerja sama bilateral dan multilateral, serta berkontribusi pada pasar yang stabil dan berfungsi dengan baik setelah keluar dari kelompok tersebut.
Kemudian pada hari yang sama, menteri perindustrian UEA sekaligus CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Ahmed Al Jaber, bertemu dengan menteri negara urusan energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad Sherida Al Kaabi, di Qatar.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya meninjau hubungan bilateral dan kerja sama energi antara UEA dan Qatar serta membahas cara untuk semakin memperkuat hubungan, kata ADNOC dalam sebuah unggahan di media sosial.
Qatar keluar dari OPEC pada 2019, yang saat itu secara luas dipandang sebagai bentuk protes terhadap organisasi yang didominasi oleh Arab Saudi tersebut.
OPEC didirikan pada 1960 oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela untuk mengoordinasikan kebijakan produksi serta melindungi kepentingan para pengekspor minyak utama dengan memastikan pendapatan yang stabil bagi para anggotanya.
UEA bergabung dengan OPEC pada 1967, dan kepergiannya akan menyisakan 11 anggota dalam kelompok tersebut. Aliansinya yang lebih luas, OPEC+, mencakup tambahan 10 produsen non-OPEC.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Platform tenaga angin terapung pertama China di laut dalam rampung dirakit
Indonesia
•
04 Jan 2023

PDB Indonesia tumbuh 5,03 persen pada 2024
Indonesia
•
06 Feb 2025

Produk UMKM Indonesia berpeluang masuk pasar Kanada
Indonesia
•
30 Jun 2020

Kerajinan batu mulia Pacitan dieskpor hingga Eropa
Indonesia
•
20 Jun 2021


Berita Terbaru

Kasus korupsi di Singapura menurun pada 2025
Indonesia
•
30 Apr 2026

Atasi lonjakan harga bahan bakar, Thai AirAsia kurangi jadwal penerbangan hingga 30 persen
Indonesia
•
30 Apr 2026

Perubahan tarif akan tambah 1,1 triliun dolar AS ke defisit anggaran ASdalam 10 tahun
Indonesia
•
30 Apr 2026

Jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke China terus meningkat
Indonesia
•
30 Apr 2026
