Trump ancam Selat Hormuz akan segera dibuka kembali, dengan atau tanpa kerja sama Iran

Foto yang diabadikan pada 10 April 2026 ini menunjukkan sebuah papan reklame untuk perundingan Amerika Serikat (AS)-Iran di Islamabad, Pakistan. Pakistan meningkatkan keamanan dan persiapan logistik seiring kedatangan delegasi dari AS dan Iran yang diperkirakan akan tiba di Islamabad untuk pembicaraan penting yang bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah, menyusul pengumuman gencatan senjata selama dua pekan baru-baru ini. (Xinhua/Ahmad Kamal)

Kapal perang AS sedang diisi ulang amunisinya untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika pembicaraan damai di Pakistan gagal.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (10/4) mengatakan para negosiator AS akan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pihak Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4), seraya menegaskan bahwa jalur perairan vital bagi energi global tersebut akan segera dibuka kembali dan "secara otomatis," dengan atau tanpa kerja sama Iran.

"(Selat) itu akan terbuka secara otomatis," ujar Trump kepada para wartawan. Dia kemudian mengatakan dirinya yakin jalur perairan tersebut akan dibuka "dalam waktu dekat."

"Saya rasa ini akan berjalan cukup cepat. Dan jika tidak, kami pasti dapat menyelesaikannya dengan cara apa pun," ujar Trump terkait selat tersebut, yang secara efektif ditutup oleh Iran selama perang AS-Israel terhadap Iran yang berlangsung lebih dari satu bulan.

Trump mengatakan fokus utamanya dalam kesepakatan dengan Iran adalah memastikan Teheran tidak dapat memperoleh senjata nuklir.

"Tidak ada senjata nuklir. Itu sudah 99 persen (dari kesepakatan itu)," ujar Trump.

Sebelumnya pada Jumat, Trump mengatakan kepada The New York Post dalam sebuah wawancara telepon bahwa hasil negosiasi dengan Iran akan menjadi jelas "dalam waktu sekitar 24 jam," sembari mengancam bahwa kapal perang AS sedang diisi ulang amunisinya untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika pembicaraan damai di Pakistan gagal.

Iran pada Jumat menyatakan angkatan bersenjatanya tetap dalam keadaan siaga penuh, sama seperti selama "pertempuran asimetris" yang berlangsung selama 40 hari, mengingat "seringnya pelanggaran janji" oleh AS dan Israel.

AS, Iran, dan Israel sama-sama mengeklaim telah memenangkan perang. Para analis meyakini gencatan senjata saat ini sangat rapuh, dan benturan kepentingan serta perbedaan yang telah berlangsung lama akan mempersulit tercapainya kesepakatan damai permanen dalam negosiasi mendatang.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait