
Belum ada kesepakatan yang difinalisasi dengan AS, Iran tegaskan hak kelola Selat Hormuz

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, berbicara dalam sebuah konferensi pers mingguan di Teheran, Iran, pada 11 Mei 2026. (Xinhua/Shadati)
Belum ada kesepakatan yang difinalisasi antara Iran dan AS, dan pertukaran pesan antara kedua pihak masih terus berlanjut.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada Jumat (29/5) mengatakan bahwa belum ada kesepakatan yang difinalisasi dengan Amerika Serikat (AS) dan pertukaran pesan antara kedua pihak masih terus berlanjut.
Baghaei menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara via telepon dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV, setelah Presiden AS Donald Trump menguraikan syarat-syarat untuk kesepakatan dengan Iran dan mengatakan bahwa dirinya akan segera mengambil keputusan.
Baghaei menegaskan kembali bahwa fokus Iran saat ini dalam perundingan "adalah untuk mengakhiri perang."
"Pada tahap ini, kami tidak membahas detail mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pengayaan uranium Iran atau uranium yang telah diperkaya," tuturnya.
Berbicara mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, Baghaei mengatakan bahwa pengelolaan selat tersebut di masa mendatang "hanya menjadi urusan Iran dan Oman."
Sebelumnya pada hari yang sama, dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menguraikan tuntutannya dengan mengatakan "Iran harus setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki Senjata atau Bom Nuklir."
"Selat Hormuz harus segera dibuka, tanpa pungutan, untuk lalu lintas pelayaran yang tidak dibatasi, di kedua arah. Semua ranjau laut (bom), jika ada, harus disingkirkan," kata Trump, seraya menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS "kini akan dicabut."
Trump juga mengatakan bahwa persediaan uranium Iran yang telah diperkaya akan digali oleh AS, melalui koordinasi dengan Iran dan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), lalu dimusnahkan.
Trump menambahkan bahwa "tidak akan ada uang yang dipertukarkan, hingga pemberitahuan lebih lanjut," yang tampaknya merujuk pada aset-aset Iran yang dibekukan serta kompensasi finansial yang diminta oleh Iran.
Iran, AS, dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 8 April setelah 40 hari pertempuran yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran.
Selama beberapa pekan terakhir, AS dan Iran beberapa kali saling bertukar usulan rencana yang memuat syarat-syarat untuk mengakhiri konflik melalui mediasi Pakistan. Kedua pihak dilaporkan sedang berupaya memfinalisasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU).
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China kirim 26,32 juta unit ponsel 5G pada Januari 2022
Indonesia
•
21 Feb 2022

Taiwan buka kembali perbatasannya untuk turis China dari negara pihak ketiga
Indonesia
•
12 Aug 2023

Faksi-faksi perjuangan Palestina pertahankan senjata
Indonesia
•
05 Feb 2026

Laporan: Warga kulit hitam AS kurang dukung intervensi militer di luar negeri
Indonesia
•
24 Nov 2022


Berita Terbaru

Amerika Serikat terus menerus plinplan, Menlu Iran tak jamin ada perdamaian
Indonesia
•
30 May 2026

Hakim AS perintahkan nama Trump dihapus dari Kennedy Center
Indonesia
•
30 May 2026

Kekerasan seksual terkait konflik meningkat tajam di seluruh dunia pada 2025
Indonesia
•
30 May 2026

Draf kesepakatan AS-Iran cakup "dana investasi" untuk Iran
Indonesia
•
30 May 2026
