
Amerika Serikat terus menerus plinplan, Menlu Iran tak jamin ada perdamaian

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menghadiri sebuah konferensi pers mingguan di Teheran, Iran, pada 16 Maret 2026. (Xinhua/Shadati)
Tercapainya perjanjian perdamaian final bergantung pada dihentikannya "pendekatan maksimalis serta posisi yang berubah-ubah dan kontradiktif" dari Amerika Serikat.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Jumat (29/5) menuturkan bahwa tercapainya perjanjian perdamaian final bergantung pada dihentikannya "pendekatan maksimalis serta posisi yang berubah-ubah dan kontradiktif" dari Amerika Serikat (AS).
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi mengatakan dalam percakapan via telepon dengan Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi bahwa Iran tetap teguh dalam membela "hak-haknya yang tidak dapat dicabut serta kepentingannya yang sah."
Araghchi mengecam retorika ancaman yang dilontarkan AS terhadap Oman. Dia mengatakan bahwa langkah-langkah "bertanggung jawab" yang diambil Iran dan Oman dalam pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz didasarkan pada hukum internasional dan sejalan dengan kepentingan masyarakat internasional.
Percakapan via telepon tersebut dilakukan dua hari setelah Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah rapat kabinet yang dihadiri media, mengatakan bahwa tidak ada satu negara pun yang akan memiliki kendali atas Selat Hormuz.
"Selat Hormuz merupakan perairan internasional, dan Oman harus bertindak sama seperti negara-negara lainnya atau kami akan menghancurkan mereka. (Jika) mereka memahami hal itu, mereka akan baik-baik saja," kata Trump.
Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam sebuah unggahan di media sosial pada Kamis (28/5), memperingatkan bahwa AS akan memberlakukan sanksi "secara agresif" terhadap Oman jika negara tersebut membantu Iran membangun sistem pungutan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz sejak 28 Februari, ketika negara itu melarang pelayaran aman bagi kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan Israel-AS terhadap wilayah Iran.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PM Slovakia kritis usai tertembak
Indonesia
•
17 May 2024

Putin teken dekret persetujuan revisi doktrin nuklir
Indonesia
•
20 Nov 2024

Xi Jinping serukan kerja sama China-Singapura yang berkualitas tinggi
Indonesia
•
18 Nov 2022

Gelombang 50.000 migran guncang Ceuta, Swedia dan Finlandia mulai waspadai ancaman keamanan
Indonesia
•
01 Aug 2026


Berita Terbaru

Khamenei serukan dunia Muslim bersatu: Kenali musuh, pahami siasatnya, lawan!
Indonesia
•
31 Aug 2026

Gletser di 5.200 meter runtuh, longsoran menghantam Xizang di China sejauh 22 km
Indonesia
•
31 Aug 2026

1.734 titik panas terdeteksi di Kalimantan, kabut asap kini selimuti Brunei
Indonesia
•
31 Aug 2026

Danau bendungan di Gyirong China barat daya surut, 19.000 meter persegi air hilang dalam 4 jam
Indonesia
•
31 Aug 2026
