Studi sebut meningkatnya radiasi surya cerminkan progres udara bersih di China

Foto dari udara yang diabadikan pada 23 Desember 2023 ini menunjukkan pembangkit listrik tenaga surya di Kota Tangshan, Provinsi Hebei, China utara. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Tangshan di Provinsi Hebei mendorong pengembangan energi bersih dan mempromosikan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan bayu. (Xinhua/Yang Shiyao)
Tingkat radiasi matahari kembali naik seiring China menggenjot inisiatif energi bersih dan memperkuat pengendalian emisi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Kendati sang surya terbit setiap hari, kuantitas sinar matahari yang mencapai permukaan Bumi terus berfluktuasi secara dramatis selama puluhan tahun. Sebuah studi baru mengungkap bahwa China telah mengalami perubahan dramatis dari "peredupan" (dimming) ke "pencerahan" (brightening) atmosfer sebagai hasil dari peningkatan kualitas udaranya.Studi itu, yang dipimpin oleh tim ilmuwan internasional dari Swiss dan China, telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Science pada Selasa (15/4). Studi tersebut mengungkap bahwa periode "peredupan" dan "pencerahan" berkaitan erat dengan tingkat polusi udara dan pengadopsian solusi energi bersih.Polusi udara dari penggunaan bahan bakar fosil yang kontinu dapat menghalangi radiasi surya yang masuk, mencegahnya mencapai permukaan Bumi, ujar Martin Wild, profesor di Institut Teknologi Federal Swiss sekaligus penulis utama studi tersebut.Menurut studi itu, tingkat radiasi surya di China menurun tajam dari tahun 1960-an hingga 1990-an. Namun, sejak tahun 2000-an, tingkat radiasi matahari kembali naik seiring negara tersebut menggenjot inisiatif energi bersih dan memperkuat pengendalian emisi."Penyebab perubahan dramatis ini diperkirakan berkaitan erat dengan meningkatnya polusi udara pada fase 'peredupan,' dan keberhasilan penerapan langkah-langkah mitigasi polusi udara pada fase 'pencerahan'," urai Wild."China memberikan lingkungan yang kondusif untuk memahami bagaimana polutan udara memengaruhi radiasi surya," imbuh Wild. "Sistem pemantauan jangka panjang yang terorganisasi dengan baik menjadikan China salah satu kawasan yang paling banyak dipelajari terkait efek peredupan dan pencerahan."Wang Kaicun, seorang profesor di Universitas Peking, menekankan pentingnya penelitian dan pemantauan yang berkelanjutan di area ini."Energi surya di permukaan Bumi merupakan energi terbarukan yang penting dan ketersediaannya adalah faktor krusial bagi pertumbuhan vegetasi dan produksi pangan," papar Wang. Lebih lanjut dia menyerukan adanya "investasi berkelanjutan dalam penyelidikan dan pemantauan jangka panjang dari permukaan Bumi dan luar angkasa."Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi luncurkan merek kendaraan listrik pertama 'Ceer'
Indonesia
•
04 Nov 2022

COVID-19 – Rusia daftarkan vaksin ketiga, CoviVac
Indonesia
•
23 Feb 2021

Tim ilmuwan tingkatkan sistem pembersihan alami otak untuk obati penyakit saraf
Indonesia
•
03 Dec 2025

Proyek digitalisasi bantu Gua Mogao di China bertahan lewati zaman
Indonesia
•
14 Jul 2023
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026
