
Tim peneliti Australia kembangkan terapi tertarget untuk kanker darah langka

Ilustrasi. (digitale.de on Unsplash)
Mielofibrosis mengganggu produksi sel darah sehat, menyebabkan kelelahan, nyeri, serta pembesaran limpa, sehingga menurunkan kualitas hidup.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia berhasil mengembangkan pendekatan terapeutik tertarget baru yang dapat meningkatkan hasil pengobatan mielofibrosis, suatu bentuk kanker darah yang langka dan serius.
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Blood tersebut berfokus pada upaya menemukan cara yang lebih cerdas untuk mengobati mielofibrosis dengan menargetkan sel-sel darah abnormal yang memicu penyakit tersebut menggunakan imunoterapi, alih-alih sekadar mengelola gejalanya. Paparan itu disampaikan dalam rilis pers Institut Penelitian Kesehatan dan Medis Australia Selatan (South Australian Health and Medical Research Institute/SAHMRI) pada Senin (12/1).
Mielofibrosis mengganggu produksi sel darah sehat, menyebabkan kelelahan, nyeri, serta pembesaran limpa, sehingga menurunkan kualitas hidup, papar rilis pers tersebut. Pengobatan yang ada saat ini hanya dapat meredakan gejala, tetapi belum mampu memberantas penyakit tersebut, lanjut rilis pers itu.
Penelitian ini merupakan langkah penting menuju pengobatan yang lebih tepat sasaran dan terfokus pada penyakit, serta menjadi pengobatan pertama di dunia yang menunjukkan bahwa mutasi calreticulin Tipe 1 berbeda dari mutasi Tipe 2 dalam hal pengobatannya, ungkap Daniel Thomas, direktur program Kanker Darah SAHMRI, yang memimpin penelitian ini bersama Angel Lopez, kepala divisi Imunologi Manusia di SA Pathology.
Tim peneliti ini menemukan tidak hanya satu, melainkan dua target berbeda yang secara optimal dapat memberantas sel-sel penyebab penyakit.
"Penderita mielofibrosis sering kali diobati dengan terapi yang membantu mengontrol gejala, tetapi terapi tersebut tidak secara khusus menargetkan sel-sel abnormal yang menjadi penyebab penyakit," kata Thomas. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan berfokus pada apa yang membuat sel-sel tersebut berbeda, pengobatan yang lebih efektif dan lebih tepat sasaran berpotensi untuk dikembangkan, imbuhnya.
Dia menyatakan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari perubahan paradigma besar dalam pengobatan mielofibrosis dan penyakit-penyakit terkait.
Menggunakan sel-sel yang disumbangkan pasien, penelitian ini menyoroti potensi imunologi berpresisi, yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menyerang sel-sel penyebab penyakit dengan sangat spesifik sambil tetap menjaga jaringan sehat, kata Lopez.
"Masa depan pengobatan kanker terletak pada pemahaman penyakit di tingkat molekuler dan imun, lalu menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi terapi yang kuat, tahan lama, dan tepat sasaran," kata Lopez.
Diperlukan penelitian dan pengembangan klinis lebih lanjut sebelum terapi ini dapat diujikan pada manusia, yang berpotensi membuka jalan menuju pengobatan mielofibrosis yang lebih aman dan efektif, urai rilis tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kosmonot Rusia akan berjalan di luar ruang angkasa pada 19 Januari
Indonesia
•
11 Jan 2022

Tes darah dapat deteksi kanker pada orang dengan 'gejala nonspesifik'
Indonesia
•
05 Jan 2022

Situs prasejarah di Jiangsu China dikonfirmasi berusia sekitar 7.500 hingga 8.100 tahun
Indonesia
•
19 Nov 2025

Medan magnet dekat semburan gelombang radio cepat terekam Teleskop FAST China
Indonesia
•
24 Sep 2022


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
