
Dukung transisi Energi, Indonesia targetkan pengoperasian PLTN pertama pada 2032

Sejumlah kendaraan terlihat melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 5 Mei 2025. (Xinhua/Zulkarnain)
Tenaga nuklir diproyeksikan mencakup 5 persen dalam bauran energi Indonesia pada 2030 dan 11 persen pada 2060.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia menargetkan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama pada 2032 sebagai bagian dari upaya mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (RI) Yuliot Tanjung.Berbicara dalam Rapat Eksekutif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) pada Senin (27/10), Yuliot menuturkan tenaga nuklir saat ini dipandang sebagai opsi strategis untuk memastikan ketahanan dan keberlanjutan energi nasional."PLTN tidak lagi dianggap sebagai pilihan terakhir, namun menjadi bagian krusial dalam perencanaan energi nasional," ujar Yuliot, seraya menambahkan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan rencana pembangunan jangka panjang Indonesia serta regulasi pemerintah baru-baru ini mengenai kebijakan energi nasional.Berdasarkan peta jalan (roadmap) pemerintah, tenaga nuklir diproyeksikan mencakup 5 persen dalam bauran energi Indonesia pada 2030 dan 11 persen pada 2060.Meski prospeknya menjanjikan, Yuliot mengakui terdapat tantangan terkait pendanaan, waktu pembangunan, serta masalah keamanan masyarakat.Pemerintah, imbuhnya, akan memperkuat langkah mitigasi, pengawasan regulasi, dan kerja sama internasional untuk memastikan keselamatan dan efisiensi dalam operasional tenaga nuklir.Data dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyebutkan, total pasokan energi Indonesia meningkat hampir 60 persen dari tahun 2000 hingga 2021. Seiring dengan meningkatnya permintaan energi, batu bara hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut. Per unit energi yang dikonsumsi, sektor energi Indonesia kini menghasilkan emisi CO2 sepertiga lebih banyak dibandingkan tahun 2000.Total emisi sektor energi telah tumbuh lebih cepat daripada permintaan energi, meningkat lebih dari dua kali lipat selama dua dekade terakhir. Pada tahun 2021, emisi sektor energi mencapai sekitar 600 juta ton karbon dioksida (Mt CO2) – menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi terbesar kesembilan di dunia. Namun, emisi CO2 energi per kapita hanya 2 ton, setengah dari rata-rata global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

ACFIC akan terus topang kepercayaan bisnis swasta China
Indonesia
•
06 Mar 2023

Bank Dunia nilai sektor keuangan Indonesia masih rentan terhadap risiko global
Indonesia
•
22 Jun 2022

Imbas aksi mogok di terminal pelabuhan laut, impor dan ekspor Kanada pada Juli 2023 anjlok
Indonesia
•
07 Sep 2023

China luncurkan katalog industri baru, buka investasi asing lebih banyak
Indonesia
•
29 Oct 2022


Berita Terbaru

IPO SpaceX raup 1.348 triliun rupiah, Elon Musk makin dekat jadi triliuner pertama dunia
Indonesia
•
13 Jun 2026

Aset lintas batas Hong Kong tembus Rp53 kuadriliun, lampaui Swiss
Indonesia
•
13 Jun 2026

UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri
Indonesia
•
12 Jun 2026

ZTE borong 3 penghargaan Selular Awards 2026, perkuat inovasi teknologi jaringan di Indonesia
Indonesia
•
11 Jun 2026
