Teleskop Antariksa Rusia-Jerman buat peta alam semesta

Teleskop antariksa Rusia-Jerman buat peta alam semesta
Ilustrasi sebuah observatorium. (Photo by Conner Baker on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Observatorium Antariksa Rusia-Jerman, Spektr-RG, telah memulai misinya untuk memetakan seluruh alam semesta, kata ilmuwan utama Rusia dari proyek bersama dan kepala departemen astrofisika berenergi tinggi dari Lembaga Penelitian Luar Angkasa di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Mikhail Pavlinsky.

Teleskop Rusia-Jerman tersebut mencapai titik operasional 1,5 juta kilometer (932.000 mil) jauhnya dari Bumi pada Senin (28/10) di mana benda ini diatur untuk memetakan seluruh langit dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya, lapor kantor berita Sputnik yang dikutip di Jakarta, Selasa.

“Program ilmiah sudah berjalan. Kami memulainya pada bulan Agustus. Dengan bantuan teleskop Rusia ART-XC (Astronomical Roentgen Telescope X-ray Concentrator), kami telah menyelidiki beberapa lusin situs, ratusan sumber. Ada pengamatan dari pulsar, ledakan supernova, objek luar galaksi, galaksi Andromeda, Awan Magellan Kecil,” kata Pavlinsky.

Misi Spektr-RG adalah proyek bersama antara badan antariksa Rusia, Roscosmos dan badan antariksa Jerman, DLR. Spektr-RG diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan pada 13 Juli 2019.

Selama empat tahun ke depan, teleskop tersebut diharapkan melakukan delapan survei langit untuk memetakan sumber sinar-X di alam semesta dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah 2,5 tahun teleskop tersebut direncanakan melakukan pengamatan cluster galaksi terpilih.

Teleskop sinar-X paling cocok untuk memotret objek yang jauh dari alam semesta, seperti kelompok galaksi, inti galaksi aktif, sisa-sisa supernova dan bintang-bintang biner (sistem dua bintang di mana satu bintang berputar di sekitar yang lain atau keduanya berputar di sekitar pusat bersama) sinar-X.

Semua benda ini sangat panas dan, sebagai hasilnya, memancarkan radiasi sinar-X.

Teleskop jenis tersebut sangat berguna untuk mempelajari sejarah alam semesta yang jauh. Kesulitan pengamatan dalam kisaran sinar-X adalah bahwa teleskop harus dinaikkan di atas atmosfer bumi.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here