
Teknologi EMG sukses uji orbit, jadi langkah besar untuk bangun rumah sakit antariksa

Astronaut Zhang Lu, komandan kru Shenzhou-21 yang beranggotakan tiga orang, keluar dari kapsul pembawa pulang (return capsule) wahana antariksa Shenzhou-22 setelah mendarat di situs pendaratan Dongfeng di Daerah Otonom Mongolia Dalam, China utara, pada 29 Mei 2026. (Xinhua/Lian Zhen)
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah perangkat pemantau elektromiografi (electromyography/EMG) yang dikembangkan oleh tim peneliti China baru-baru ini merampungkan eksperimen di orbit.
Perangkat tersebut dapat digunakan di luar angkasa untuk melakukan penilaian secara waktu nyata (real-time) terhadap status otot astronaut dan interaksi manusia-mesin, sehingga memberikan dukungan teknis utama bagi perlindungan kesehatan astronaut dan teknologi interaksi manusia-mesin berbasis antariksa.
Wahana Uji Kargo Antariksa Qingzhou telah merilis batch terbaru hasil uji coba di orbit pada Senin (29/6), termasuk perangkat pemantau EMG yang dikembangkan oleh tim dari Institut Teknologi Mutakhir Shenzhen (Shenzhen Institute of Advanced Technology/SIAT) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), yang menjalin kolaborasi dengan Universitas Teknologi Mutakhir Shenzhen (Shenzhen University of Advanced Technology/SUAT).
Wahana Uji Kargo Antariksa Qingzhou diluncurkan ke luar angkasa pada 30 Maret 2026. Wahana itu mengangkut lima proyek medis, termasuk perangkat pemantau EMG, untuk rumah sakit antariksa masa depan pertama di dunia yang digagas oleh SUAT.
Astronaut yang menghabiskan periode panjang dalam kondisi mikrogravitasi mengalami penurunan pemberian beban pada otot (muscle loading) yang signifikan.
Hal ini menyebabkan penurunan frekuensi kontraksi serat otot dan mempercepat pemecahan protein, sehingga memicu berbagai masalah, seperti atrofi (penyusutan) otot.
Pemantauan kesehatan otot astronaut secara akurat, berkelanjutan, dan real-time tetap menjadi tantangan utama dalam ilmu kehidupan antariksa dan kedokteran antariksa.
Saat ini, Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) terutama menggunakan pengujian kekuatan otot dan pencitraan ultrasonografi (USG), sementara stasiun luar angkasa China mengevaluasi atrofi otot melalui gaya operasional dan pengukuran optik.
Namun, metode-metode yang ada saat ini umumnya terkendala oleh biaya yang tinggi, kontinuitas real-time yang tidak memadai, serta ketidakmampuan untuk mendokumentasikan kondisi otot secara langsung.
Tim yang dipimpin oleh peneliti SIAT Wang Yishan tersebut mengusulkan solusi pemantauan EMG berbasis deteksi sinyal saraf, yang memungkinkan evaluasi dinamis terhadap status otot melalui akuisisi dan analisis sinyal EMG secara real-time.
Berbekal cip deteksi sinyal saraf yang dikembangkan secara mandiri sebelumnya, tim tersebut berhasil menciptakan perangkat deteksi EMG dan merampungkan berbagai modifikasi adaptasi kedirgantaraan.
Guna memenuhi persyaratan perangkat di lingkungan luar angkasa yang kompleks, tim melakukan serangkaian eksperimen di darat, termasuk pengujian getaran, pengujian siklus termal, serta pencocokan antarmuka antara muatan (payload) dengan pesawat antariksa, demi memastikan stabilitas serta keandalan cip dan perangkat itu di luar angkasa.
Setelah peluncuran Wahana Uji Kargo Antariksa Qingzhou, tim tersebut melaksanakan uji coba di orbit.
Di bawah kendali jarak jauh dari darat, pengujian ini berhasil menyelesaikan tugas-tugas akuisisi, penyimpanan, dan transmisi data simulasi.
Data yang diterima di darat menunjukkan bahwa uji coba tersebut berjalan lancar. Hasil yang diperoleh dari perangkat itu sesuai dengan data yang diperkirakan, mengindikasikan bahwa cip dan perangkat tersebut dapat beroperasi secara stabil dan andal dalam kondisi mikrogravitasi, serta cocok dengan kondisi kerja di luar angkasa.
Keberhasilan uji coba di orbit tersebut semakin mendorong kemajuan teknologi penopang kehidupan di luar angkasa, serta dapat berkontribusi bagi pengembangan bidang kesehatan medis berbasis darat, interaksi manusia-mesin, dan perangkat pintar yang dapat dikenakan (smart wearable).
Hasil yang dirilis kali ini juga mencakup sebuah alat genggam penganalisis sel darah, yang tidak lagi bergantung pada peralatan medis berukuran besar dan instruksi dari darat.
Pada Juli 2025, SUAT menandatangani kesepakatan dengan Akademi Inovasi untuk Mikrosatelit yang dinaungi CAS untuk bersama-sama membangun rumah sakit antariksa masa depan.
Inisiatif itu bertujuan untuk meningkatkan perlindungan kesehatan astronaut dan kesehatan manusia, serta memperluas kapabilitas pemantauan medis di orbit dan sistem penopang kehidupan, dengan fokus pada teknologi pencegahan dan pengobatan penyakit yang lebih maju.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Bibit kentang yang terpapar luar angkasa masuki tahap penanaman eksperimental di China utara
Indonesia
•
16 Jan 2024

Satelit pencitraan ‘multimode’ resolusi tinggi China mulai beroperasi
Indonesia
•
21 Jan 2022

Tim ilmuwan Rusia kembangkan sistem nanopartikel yang memungkinkan pengobatan melanoma secara oral
Indonesia
•
28 Nov 2025

Sehelai rambut bisa buktikan kekuatan ikatan ibu dan anak
Indonesia
•
05 Feb 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
