
Sudan Selatan hadapi perang dan kelaparan ekstrem, kekurangan dana 4,61 triliun rupiah ancam jutaan nyawa

Seorang perempuan dan anak-anaknya duduk di sebuah gubuk di kamp pengungsian dekat kota perbatasan Al-Tina di Sudan barat pada 19 Juni 2026. (Xinhua/Walid Rahamtalla)
Juba, Sudan Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (14/8) memperingatkan bahwa lebih dari 650.000 pengungsi dan pencari suaka di Sudan Selatan menghadapi gangguan serius dalam memperoleh bantuan pangan dan gizi yang sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa akibat kekurangan pendanaan yang kritis.
Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) dan Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) menyatakan bahwa tanpa pendanaan segera, persediaan mereka hanya akan cukup untuk memberi makan 240.000 pengungsi hingga September, sehingga ratusan ribu orang yang melarikan diri dari perang dan kelaparan tidak memiliki tempat lain untuk mendapatkan bantuan.
"Tanpa pendanaan segera dan mendesak, bantuan pangan dan gizi terakhir bagi 240.000 pengungsi yang paling rentan akan disalurkan pada September, sehingga memutus sumber penyelamatan bagi ratusan ribu orang yang sudah hidup dalam kondisi kritis.
Mereka merupakan pengungsi terakhir yang tersisa dari 650.000 orang yang sebelumnya menerima bantuan pangan di seluruh negeri," papar badan-badan PBB itu dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan di Juba, ibu kota Sudan Selatan.
"Setiap pekan, ribuan lebih pengungsi dan orang yang kembali ke negara asal terus berdatangan dari Sudan dengan hampir tidak membawa apa-apa, banyak dari mereka kelelahan, kelaparan, dan sangat membutuhkan perlindungan serta bantuan," ujar Mesfin Degefu, deputi perwakilan UNHCR di Sudan Selatan.
UNHCR dan WFP memperingatkan bahwa pemangkasan bantuan yang akan segera terjadi ini bertepatan dengan puncak musim hujan, periode kritis ketika pasokan pangan langka, harga pasar melonjak, dan jalan-jalan yang terendam banjir atau rusak parah sangat menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan.
Saat ini, WFP menghadapi kekurangan dana mendesak sebesar 37 juta dolar AS untuk respons pengungsi dan kekurangan dana keseluruhan sebesar 258 juta dolar AS hingga akhir 2026, defisit yang mengancam bantuan penyelamatan nyawa bagi 4,2 juta orang yang mengalami kerawanan pangan di seluruh negeri.
*1 dolar AS = 17.882 rupiah
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Para pebisnis Inggris berpaling dari China karena ketegangan politik meningkat
Indonesia
•
31 Jul 2022

Yunani pangkas konsumsi energi hingga 30 persen pada 2030
Indonesia
•
10 Jun 2022

Warga sipil di Gaza terus jadi sasaran serangan
Indonesia
•
06 May 2026

Hamas buktikan komitmennya pada gencatan senjata, pulangkan jenazah sandera Israel
Indonesia
•
27 Jan 2026


Berita Terbaru

Iran bantah klaim Trump, tegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz
Indonesia
•
15 Aug 2026

Pilot Air India positif ganja, tes narkoba kini wajib bagi seluruh pilot
Indonesia
•
15 Aug 2026

Serangan siber bobol data medis 19 juta warga Polandia, 2 terabita informasi dicuri
Indonesia
•
15 Aug 2026

Dari Sanksi hingga Selat Hormuz, AS siapkan tekanan ekonomi baru terhadap Iran
Indonesia
•
15 Aug 2026
