
Fosil tumbuhan berumur 410 juta tahun ungkap pergeseran ekologis Bumi

Foto yang disediakan oleh Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) ini menunjukkan fosil tanaman 'Zosterophyllum'. (Xinhua)
Spesies tanaman berukuran kecil yang berasal dari 410 juta tahun silam membutuhkan lebih sedikit nutrisi dan sarana reproduksi, sehingga kemungkinan memiliki umur yang pendek dan dapat menyelesaikan seluruh siklus hidupnya dengan cepat.
Nanjing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok ilmuwan China menemukan sebuah spesies tanaman berukuran kecil yang berasal dari 410 juta tahun silam di Kota Duyun, Provinsi Guizhou, China barat daya. Temuan ini menawarkan wawasan baru mengenai proses "kolonisasi tumbuhan di darat."Menurut para peneliti dari Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), tinggi tanaman Zosterophyllum yang mereka temukan hanya 45 milimeter, dengan sporangiumnya berukuran hanya 5,8 hingga 10,8 milimeter. Berbeda dengan rata-rata panjang tanaman serupa dari era itu, yaitu 100 hingga 200 milimeter, ukurannya yang kecil tergolong sangat langka.Para peneliti meyakini bahwa tanaman kecil itu, yang membutuhkan lebih sedikit nutrisi dan sarana reproduksi, kemungkinan memiliki umur yang pendek dan dapat menyelesaikan seluruh siklus hidupnya dengan cepat. Kemampuan beradaptasi ini diperkirakan cocok untuk lingkungan yang bergejolak pada saat itu, menjadi strategi bertahan hidup bagi tanaman pada periode tersebut.Sekitar 430 juta tahun yang lalu, tanaman memulai transisinya dari lautan ke daratan, sebuah proses yang secara signifikan mengubah lingkungan ekologis Bumi, menurut para ahli."Tumbuhan darat pada tahap awal perkembangannya kemungkinan besar mengandalkan strategi bertahan hidup yang berevolusi dan beragam untuk menghadapi tekanan lingkungan yang kompleks, menyelesaikan 'kolonisasi tumbuhan di darat,' dan pada akhirnya menyelimuti Bumi dengan tanaman hijau," kata Huang Pu, seorang asisten peneliti di institut tersebut, yang memimpin penelitian ini.Temuan ini dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B pada Rabu (15/1).Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Satelit Fengyun-3G baru China sediakan pemantauan curah hujan presisi tinggi
Indonesia
•
17 Apr 2023

Tim astronom temukan petunjuk perihal sumber semburan gelombang radio cepat
Indonesia
•
14 May 2023

SpaceX berencana luncurkan roket Starship raksasa pekan ini
Indonesia
•
06 Mar 2025

China rilis peta global pertama terkait amonia di atmosfer yang diamati oleh satelit Fengyun
Indonesia
•
12 Dec 2023


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
