
Tim ilmuwan China kembangkan model jaringan terinspirasi otak untuk jembatani AI dan ilmu saraf

Seorang anggota staf sebuah perusahaan teknologi mendemonstrasikan perangkat lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sebuah ekshibisi dalam ajang China Science Fiction Convention (CSFC) 2023 di Beijing, ibu kota China, pada 30 Mei 2023. (Xinhua/Chen Zhonghao)
Model jaringan baru yang terinspirasi dari otak berdasarkan kompleksitas internal bertujuan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh model-model tradisional, seperti konsumsi sumber daya komputasi yang tinggi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China mengembangkan sebuah model jaringan baru yang terinspirasi dari otak berdasarkan kompleksitas internal untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh model-model tradisional, seperti konsumsi sumber daya komputasi yang tinggi, ungkap Institute of Automation di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China pada Jumat (16/8).Salah satu tujuan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini adalah untuk mengembangkan AI tujuan umum (general purpose AI), sehingga membuat model-model itu memiliki kemampuan kognitif yang lebih luas dan umum.Pendekatan populer saat ini yang digunakan oleh model-model besar adalah membangun jaringan saraf yang lebih besar, mendalam, dan luas berdasarkan hukum skala, yang dapat dirujuk sebagai metode pencapaian kecerdasan umum berdasarkan "kompleksitas eksternal", ujar Li Guoqi, seorang peneliti dari Institute of Automation.Namun, pendekatan ini menghadapi berbagai tantangan, seperti konsumsi sumber daya komputasi dan energi yang tidak berkelanjutan, serta kurangnya kemampuan interpretasi.Di sisi lain, otak manusia memiliki sekitar 100 miliar neuron dan hampir 1.000 triliun koneksi sinapsis, dengan setiap neuron memiliki struktur internal yang kaya dan beragam. Namun, konsumsi daya otak manusia hanya sekitar 20 watt.Terinspirasi oleh dinamika neuron otak tersebut, tim ilmuwan dari Institute of Automation dan institusi-institut penelitian lainnya, seperti Universitas Tsinghua dan Universitas Peking, menggunakan pendekatan "kompleksitas internal" untuk mencapai kecerdasan umum.Eksperimen mereka memverifikasi keefektifan dan keandalan model kompleksitas internal dalam menangani tugas-tugas yang rumit, menyediakan metode-metode baru dan dukungan teoretis untuk mengintegrasikan karakteristik dinamis ilmu saraf ke dalam AI, serta menawarkan solusi yang layak untuk mengoptimalkan dan meningkatkan kinerja praktis model AI.Studi tersebut telah dipublikasikan baru-baru ini di dalam jurnal Nature Computational Science.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Induk panda raksasa liar dan anaknya tertangkap kamera di China barat daya
Indonesia
•
05 Dec 2022

Situs peninggalan tepi danau Zaman Neolitikum teridentifikasi di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
Indonesia
•
24 Jan 2025

Karang terbesar di dunia ditemukan di Samudra Pasifik barat daya
Indonesia
•
16 Nov 2024

Algoritma berbasis AI bantu temukan lima planet kecil dengan periode orbit ultrasingkat
Indonesia
•
15 Oct 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
