Sistem kesehatan Gaza hadapi krisis parah akibat menipisnya obat-obatan dan layanan ambulans

Sejumlah ambulans yang mengangkut pasien Palestina melaju menuju perlintasan perbatasan Rafah di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 19 Maret 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Para pejabat kesehatan di Gaza pada Sabtu (11/7) memperingatkan adanya krisis kesehatan yang parah di wilayah kantong tersebut, dengan kelangkaan kritis obat-obatan, peralatan, dan layanan ambulans mengancam nyawa ratusan ribu pasien.

Mohammed Abu Afash, direktur Organisasi Bantuan Medis (Medical Relief Organization) di Gaza, mengatakan sistem kesehatan belum menerima konvoi bantuan medis yang dijanjikan sejak gencatan senjata, sehingga menyebabkan kelangkaan kritis obat-obatan dan peralatan, dengan defisit pasokan alat uji medis yang melampaui 87 persen.

Dia menuturkan bahwa lebih dari 24.000 pasien dengan kondisi kronis tidak mendapatkan perawatan yang memadai, dan banyak di antara lebih dari 300.000 pasien hipertensi telah mengalami komplikasi serius akibat pengobatan yang terputus.

Dengan suhu musim panas yang semakin meningkat, dia memperingatkan tentang penyebaran penyakit menular yang cepat di kamp-kamp pengungsian padat penduduk.

Sementara itu, otoritas kesehatan di Gaza mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 70 persen armada ambulans tidak dapat beroperasi akibat serangan tertarget, kerusakan mesin, dan kelangkaan suku cadang, serta memperingatkan bahwa larangan yang terus berlanjut terhadap masuknya ban dan suku cadang dapat melumpuhkan sistem transportasi.

Situasi yang kian memburuk itu menuai kecaman dari pejabat Fatah, Munther al-Hayek, yang dalam sebuah wawancara radio menggambarkan situasi tersebut sebagai "perang skala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat melalui Israel."

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlaku sejak 10 Oktober 2025. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait