
Sistem prakiraan badai debu terbaru mampu tingkatkan produksi energi surya

Foto dari udara yang diabadikan pada 8 September 2024 ini menunjukkan pemandangan sebagian area pembangkit listrik tenaga surya Shichengzi di Kota Hami, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut. (Xinhua/Hu Huhu)
Sistem iDust membantu ladang surya dan operator jaringan listrik agar lebih siap menghadapi gangguan terkait debu, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil mengembangkan perangkat prakiraan baru bernama iDust yang digunakan untuk meningkatkan akurasi prakiraan badai debu, memberikan manfaat yang sangat besar bagi produksi energi surya.Alat ini mengatasi tantangan-tantangan kritis bagi energi terbarukan, terutama di kawasan gurun di mana debu dapat mengurangi efisiensi panel surya secara signifikan.Penelitian ini, yang dipimpin oleh para ilmuwan di Institut Fisika Atmosfer (Institute of Atmospheric Physics/IAP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), diterbitkan dalam Jurnal Kemajuan dalam Pemodelan Sistem Bumi (Journal of Advances in Modeling Earth Systems)."Badai debu tidak hanya menghalangi sinar matahari, tetapi juga menumpuk di panel surya, sehingga mengurangi output dayanya," kata Chen Xi, seorang peneliti di IAP.Seiring upaya China untuk memperluas proyek energi surya di area kering dan berpasir, prakiraan badai debu yang akurat menjadi hal yang krusial guna meminimalisasi gangguan dan kerugian finansial. Model-model prakiraan yang sudah ada, seperti model dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (European Centre for Medium-Range Weather Forecasts/ECMWF), memiliki keterbatasan dalam hal resolusi dan kecepatan.Sistem idust dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut dengan mengintegrasikan proses debu secara langsung ke inti dinamis, memberikan prakiraan beresolusi lebih tinggi dengan hanya menggunakan daya komputasi sedikit lebih besar daripada model cuaca standar. Sistem ini dapat menghasilkan prakiraan badai debu selama 10 hari hanya dalam waktu enam jam setelah mengumpulkan serangkaian pengamatan, menjadi peningkatan signifikan dibandingkan model ECMWF yang memerlukan waktu lebih lama dan memberikan prakiraan yang kurang terperinci.Sistem iDust diharapkan dapat membantu ladang surya dan operator jaringan listrik agar lebih siap menghadapi gangguan terkait debu, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya. Seiring China berupaya memenuhi target netralitas karbon, perangkat seperti idust akan memainkan peran penting dalam mengoptimalkan sistem energi terbarukan, ungkap Chen.Target pengembangan di masa mendatang adalah memperluas penerapan iDust secara global, mendukung upaya energi berkelanjutan di seluruh dunia, imbuh Chen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi resmikan fasilitas desalinasi bertenaga surya terbesar dunia
Indonesia
•
01 Jun 2021

China luncurkan platform mahadata untuk pengembangan industri padi
Indonesia
•
05 Apr 2023

Peneliti China ungkap mengapa jerapah berleher panjang
Indonesia
•
03 Jun 2022

Roket komersial China Gravity-1 lakukan penerbangan perdana
Indonesia
•
12 Jan 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
