
Serangan Israel di Lebanon hambat respons darurat dan penyaluran bantuan

Sejumlah orang berdiri di antara puing-puing rumah yang hancur akibat serangan udara Israel di Tyre, Lebanon, pada 26 Mei 2026. (Xinhua/Ali Hashisho)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Semakin sering pasukan Israel menyerang target di Lebanon selatan, semakin besar pula hambatan terhadap kapasitas tanggap darurat dan akses pengiriman bantuan, demikian disampaikan badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (29/5).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan bahwa di Kegubernuran Nabatieh, serangan pada Kamis (28/5) dilaporkan berdampak pada jalan utama di Distrik Marjayoun, yang sangat penting untuk evakuasi medis darurat, pergerakan pekerja bantuan, serta akses masyarakat terhadap barang dan layanan esensial.
Pada Kamis yang sama, sumber-sumber lokal melaporkan bahwa serangan udara terpisah menewaskan sedikitnya delapan orang di Maarakah, Kegubernuran Selatan. Tiga orang lainnya tewas, sementara sekitar 37 orang luka-luka di kamp pengungsi Palestina Al Buss.
Perintah evakuasi berulang kali memaksa keluarga-keluarga meninggalkan rumah mereka, yang kemudian terpaksa kembali lagi seiring kondisi keamanan yang terus berubah-ubah. Tempat-tempat penampungan di Kota Tyre dilaporkan sudah mencapai kapasitas maksimal, dan keluarga-keluarga yang mengungsi semakin banyak yang pindah ke utara, meninggalkan rumah mereka.
"Meski menghadapi berbagai kendala tersebut, PBB dan mitra-mitra kemanusiaannya terus menyalurkan bantuan penyelamat nyawa ke seluruh penjuru negeri," kata OCHA. Sejak 2 Maret, Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) dan mitranya telah mendistribusikan lebih dari 11 juta makanan panas dan dingin kepada masyarakat yang terdampak konflik, sementara Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) dan mitra-mitra penampungan telah menyediakan lebih dari 170.000 selimut dan 130.000 kasur bagi keluarga yang mengungsi, imbuh OCHA.
Imran Riza, koordinator kemanusiaan PBB untuk Lebanon, pada Jumat mengatakan bahwa dirinya sangat prihatin atas meningkatnya intensitas pertempuran serta dampak perintah evakuasi yang memengaruhi masyarakat di seluruh negara itu. Dia menyinggung soal laporan bahwa serangan udara melukai warga sipil ketika mereka berupaya melarikan diri dari daerah-daerah yang berada di bawah perintah evakuasi.
Mengutip data resmi Lebanon, OCHA mengatakan sedikitnya 3.355 orang tewas dan 10.095 lainnya luka-luka sejak eskalasi terjadi pada 2 Maret menyusul perang AS-Israel melawan Iran.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Ribuan pelajar Palestina gagal ikut ujian akhir akibat konflik di Gaza
Indonesia
•
30 Jun 2024

COVID-19 - Rusia mulai produksi vaksin
Indonesia
•
17 Aug 2020

Feature – Populasi China yang menua dorong munculnya profesi perawat baru
Indonesia
•
15 Aug 2024

Feature – Tukang kayu Palestina ini buatkan sandal kayu untuk anak-anak pengungsi di Gaza
Indonesia
•
21 Sep 2024


Berita Terbaru

Feature – Bagaimana bakpia menjadi ikon Yogyakarta? Kisah akulturasi yang jarang diketahui
Indonesia
•
24 Jul 2026

Festival Dalang Anak dan Remaja 2026 digelar di Yogyakarta, cetak generasi penerus wayang
Indonesia
•
23 Jul 2026

Feature – Mahasiswa Indonesia soroti teknologi AIdan pemindaian 3D china untuk lestarikan warisan budaya
Indonesia
•
23 Jul 2026

Permainan tradisional semarakkan peringatan Hari Anak Nasional di Solo
Indonesia
•
23 Jul 2026
