
Surat dari Timur Tengah: Tanah Air dirampas, Tatreez menjaga ingatan Palestina tetap hidup

Seorang pedagang menata barang dagangannya di Pasar Harjeh di Kota Ramallah, Tepi Barat, pada 3 Juli 2026. (Xinhua/Ayman Nobani)
Ramallah, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Pada suatu sore di musim panas, saya berjalan menyusuri Jalan Issa Ziada di kawasan kota tua Ramallah. Aroma kopi yang kuat, bau wangi herbal dari sabun buatan tangan, serta keharuman roti yang baru dipanggang memenuhi udara.
Namun, bukan aroma-aroma yang menggugah selera itu yang membuat saya berhenti, melainkan benang-benang berwarna merah tua dan ungu lembayung, yang sehalus urat nadi dan sarat akan kenangan, yang disulamkan ke kain oleh tangan-tangan yang menolak lupa.
Ayyam Tamimi (50), seorang perajin bordir dari Yerusalem Timur, mengambil selembar kain. Dengan lembut jemarinya mengusap-usap sulaman.
"Ini Tatreez," ujar Tamimi pelan.
Tatreez, seni bordir tusuk silang tradisional Palestina, mendapatkan pengakuan internasional pada 2021 ketika Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mencantumkannya ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Menurut Tamimi, dia telah menghabiskan lebih dari 20 tahun untuk menguasai kerajinan tersebut. Dia mengawalinya dengan menjadi penyulam, kemudian pemilik toko, dan akhirnya mendirikan mereknya sendiri.
"Ini adalah warisan yang diwariskan oleh leluhur kami," ujarnya. Matanya menelusuri pola-pola sulaman seolah sedang membaca lanskap yang tak lagi dapat dia datangi.
"Kami perempuan Palestina menyulam lanskap desa-desa kami yang diduduki ke dalam kain," tuturnya. "Desa-desa itu tidak bertahan. Namun, kain sulaman ini bertahan. Kami mungkin tidak dapat mewarisi tanah leluhur kami, tetapi setiap kali melihat Tatreez, di rumah, dalam upacara pernikahan, maupun di toko, saya teringat dari mana akar kami berasal."
Di luar stan Tamimi, jalan tersebut bermuara ke sebuah area parkir yang disulap menjadi empat deret stan. Stan-stan itu merupakan bagian dari Pasar Harjeh, yang kembali dibuka musim panas ini setelah ditutup selama dua tahun menyusul pecahnya perang terbaru Israel-Hamas pada Oktober 2023.
Pasar musiman tersebut dimaksudkan untuk mendukung para perajin dan usaha kecil Palestina. Pasar itu dibuka setiap Jumat selama musim panas dan biasanya menampung sekitar 100 stan. Di tempat ini, kenangan terus hidup dengan disulamkan ke dalam kain, dihadirkan oleh nama-nama tempat, dan diukirkan ke kayu zaitun.
Di sebuah stan, Sameh Abdullah membungkuk untuk mengambil sebuah plakat bertuliskan ‘Jaffa’ dalam bahasa Arab dan Inggris. Kakek-neneknya terpaksa meninggalkan Kota Jaffa dan mengungsi ke al-Bireh, sebuah kota di Tepi Barat, pada 1948.
Di samping Sameh Abdullah, Mohammad Omar (30) dengan sopan meminta saya untuk tidak merekamnya karena dia ingin "menghindari masalah yang tidak perlu."
Omar berkendara lebih dari empat jam dari Tulkarm di Tepi Barat bagian utara, melewati sejumlah pos pemeriksaan militer Israel yang membuat perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu 40 menit berubah menjadi perjalanan setengah hari.
"Barang dagangan saya sering ditahan di pos pemeriksaan Israel," katanya pelan.
Selama 10 tahun terakhir, Omar menjual plakat yang mencantumkan nama-nama tempat di Palestina. Setiap kali bepergian ke kota lain, dia mengirimkan plakat-plakat tersebut terlebih dahulu melalui truk pemasok.
"Mereka takut," katanya sambil memelankan suara. "Takut kami akan mengingat nama setiap kota yang diduduki, setiap bukit, setiap sungai."
Kekerasan terus meningkat di seluruh Tepi Barat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendokumentasikan lebih dari 1.300 serangan pemukim yang menyebabkan jatuhnya korban atau kerusakan properti dalam tujuh bulan pertama tahun ini, laju tertinggi yang pernah tercatat.
Ribuan pohon zaitun dibakar, ditebang, atau dirusak dengan cara lain. Bagi warga Palestina, pohon-pohon tersebut lebih dari sekadar tanaman yang dibudidayakan selama ribuan tahun dan sumber penghidupan penting. Pohon-pohon zaitun itu merupakan simbol, yakni simbol perlawanan dan kampung halaman, yang senyap dan tak lekang oleh waktu.
Di stan lain di Pasar Harjeh, Aida Al-Shawa menata magnet-magnet kulkas yang diukir dari kayu zaitun. Magnet-magnet kulkas itu berkilau di bawah sinar matahari sore.
"Prajurit dan pemukim Israel menebang dan membakar pohon-pohon zaitun di seluruh Tepi Barat," tuturnya. "Karena itu, kami berpegang erat pada setiap batang pohon dan mencurahkan hati kami ke dalam pekerjaan ini. Kami ingin dunia melihat bahwa tanah ini adalah milik kami."
Kata-kata Al-Shawa itu mengingatkan saya pada perkataan seorang petani lansia Palestina yang pernah saya temui: buldoser mungkin dapat membelah batang pohon zaitun, tetapi selama akarnya tetap ada, pohon itu akan tumbuh kembali.
Di tangan Al-Shawa, akar-akar tersebut diubah menjadi pengingat yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dia mengukirkan nama-nama tempat yang diyakininya sedang dihapus dan mengubah nama-nama tempat itu menjadi benda-benda yang dapat digunakan sehari-hari.
"Dengan begitu, setiap pagi ketika orang membuka kulkas untuk mengambil susu, mereka akan melihat sekilas tanah air yang mungkin tidak akan pernah dapat mereka datangi kembali," ujarnya sambil tersenyum.
Selesai
Oleh penulis Xinhua: Zhao Weihong
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

330.000 ton limbah padat timbulkan risiko kesehatan bagi warga Gaza
Indonesia
•
15 Jun 2024

Singapura alokasikan 10 juta dolar Singapura untuk bantu bersihkan toilet di kedai kopi
Indonesia
•
06 Mar 2025

Kotak hitam pesawat Nepal yang jatuh ditemukan, 4 korban masih dicari
Indonesia
•
16 Jan 2023

USA Today: 110 warga Amerika tewas akibat kekerasan senjata setiap hari
Indonesia
•
08 Feb 2023


Berita Terbaru

2.500 lebih personel penyelamat dikerahkan ke pelabuhan Gyirong yang dilanda tanah longsor di Xizang China
Indonesia
•
07 Sep 2026

China perkuat respons bencana Nepal dengan data satelit dan bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
06 Sep 2026

Dari pertukaran berita hingga jurnalis, Forum Shenzhen dorong kolaborasi media
Indonesia
•
06 Sep 2026

Sekolah di seberang sungai, 7 ‘bus sekolah air’ gratis antar ratusan murid setiap hari
Indonesia
•
03 Sep 2026
