
Media sebut perlakuan Texas di AS terhadap migran dari selatan "tidak manusiawi"

Para migran yang mencari suaka menunggu untuk menaiki bus di sebuah pos pemeriksaan di Eagle Pass, Texas, Amerika Serikat, pada 10 Oktober 2022. (Xinhua/Nick Wagner)
Negara Bagian Texas di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan upayanya untuk secara fisik menghalangi para migran memasuki AS melalui Operation Lone Star yang dilancarkannya, dan beberapa inisiatif paling agresif telah ditargetkan ke Eagle Pass.
New York City, AS (Xinhua) – Negara Bagian Texas di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan upayanya untuk secara fisik menghalangi para migran memasuki AS melalui Operation Lone Star yang dilancarkannya, dan beberapa inisiatif paling agresif telah ditargetkan ke Eagle Pass. Di lokasi tersebut, negara bagian itu membentangkan kawat berduri sepanjang beberapa kilometer dan memasang deretan pembatas terapung di Rio Grande, menurut Houston Chronicle.Sebuah surel dari seorang petugas Departemen Keamanan Publik Texas (Texas Department of Public Safety/DPS) menggambarkan kondisi di sepanjang perbatasan di Eagle Pass, yang disebut "tidak manusiawi" oleh petugas itu sendiri.Petugas DPS tersebut, Nicholas Wingate, menyampaikan beberapa kekhawatiran kepada atasannya pada awal bulan ini, termasuk laporan tentang seorang wanita hamil yang mengalami keguguran dan tersangkut di kawat, seorang anak perempuan berusia empat tahun yang pingsan akibat kepanasan parah setelah mencoba melewati perbatasan dan didorong oleh tentara Garda Nasional Texas, serta seorang remaja yang tulang kakinya patah usai mencoba melewati air di sekitar kawat dan harus digendong oleh ayahnya.Menurut tentara tersebut, para petugas juga diperintahkan untuk menolak memberikan air minum kepada para migran, yang melakukan perjalanan di tengah suhu panas ekstrem yang bisa mencapai 100 derajat Fahrenheit (sekitar 37 derajat Celsius), dan mendorong mereka kembali ke air. Upaya-upaya ini telah membuat beberapa migran jera, serta menyebabkan banyak migran lainnya cedera dan kemungkinan tewas."Perbatasan AS-Meksiko menjadi zona yang semakin tidak manusiawi dan sering kali mematikan, dan hal yang memalukan bagi negara," sebut seorang jurnalis yang berbasis di New York City, Jill Filipovic, pada Selasa (18/7) dalam tulisannya untuk CNN, sehubungan dengan deskripsi yang disampaikan oleh tentara tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Dinas PUPR Kota Bogor temukan bunker saluran air peninggalan Belanda
Indonesia
•
02 Sep 2021

Jumlah kasus infeksi flu dan COVID di AS melonjak
Indonesia
•
06 Dec 2023

Feature – Ip Man Wing Chun Exhibition Jakarta tampilkan warisan bela diri legendaris
Indonesia
•
19 Feb 2026

Studi: Milenial dan Gen Z terbuka dan kritis tapi percayai mitos dan takhayul
Indonesia
•
09 Nov 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
