
Peneliti China gunakan satelit sains Bumi untuk pantau anjungan minyak dan gas lepas pantai

Satelit sains Bumi diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di Taiyuan, Provinsi Shanxi, China utara, pada 5 November 2021. (Xinhua/Zheng Bin)
SDGSAT-1 merupakan satelit sains Bumi yang menyediakan data penting berbasis luar angkasa untuk menilai interaksi manusia-lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Peneliti China meluncurkan aplikasi baru satelit sains Bumi SDGSAT-1 untuk mengamati anjungan minyak dan gas lepas pantai.Studi ini, yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Penelitian Informasi Dirgantara (Aerospace Information Research Institute) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS), baru-baru ini diterbitkan dalam Jurnal Internasional Bumi Digital (International Journal of Digital Earth).Seiring meningkatnya permintaan minyak global dan pergerakan industri menuju dekarbonisasi, pemantauan khusus terhadap anjungan minyak dan gas menjadi semakin diperlukan. Meski demikian, pelacakan anjungan-anjungan ini di wilayah samudra yang luas dan dinamis telah lama menimbulkan tantangan.Para peneliti menggunakan Glimmer Imager dan Thermal Infrared Spectrometer milik SDGSAT-1 untuk melacak aktivitas pembakaran gas di Laut China Selatan. Pendekatan inovatif ini memungkinkan mereka untuk memetakan operasi platform dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.Temuan tersebut membantu para peneliti mengidentifikasi 113 anjungan minyak dan gas di tengah lingkungan maritim yang kompleks dengan pulau-pulau, kapal, dan fasilitas lepas pantai lainnya di kawasan tersebut."Temuan ini menyoroti kompetensi SDGSAT-1 dalam melacak status operasional platform minyak dan gas," demikian menurut penelitian tersebutDiluncurkan pada 5 November 2021, SDGSAT-1 merupakan satelit sains Bumi pertama di dunia yang didedikasikan untuk mendukung Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pembangunan Berkelanjutan.Dikembangkan oleh CAS, satelit ini menyediakan data penting berbasis luar angkasa untuk menilai interaksi manusia-lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China kembangkan perangkat implan untuk pemberian obat ‘in vivo’
Indonesia
•
24 Nov 2023

Peneliti Rusia kembangkan implan tulang belakang yang fleksibel dari titanium
Indonesia
•
21 Feb 2026

COVID-19 – Taiwan rilis syarat penerima vaksin AstraZeneca
Indonesia
•
19 Mar 2021

Tim ekspedisi China capai puncak tertinggi dunia untuk penelitian ilmiah
Indonesia
•
23 May 2023


Berita Terbaru

OpenAI akan tutup aplikasi video Sora
Indonesia
•
25 Mar 2026

Tes darah kini mampu deteksi kanker stadium dini menggunakan 4 protein utama
Indonesia
•
25 Mar 2026

Lab fisika partikel di Jenewa jadi yang pertama di dunia lakukan pemindahan antimateri
Indonesia
•
25 Mar 2026

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026
