
Rwanda sepakat terima hingga 250 migran dalam kesepakatan baru dengan AS

Foto yang diabadikan pada 26 Juni 2025 ini menunjukkan pemandangan kota di Kigali, Rwanda. (Xinhua/Cyril Ndegeya)
Rwanda telah menerima sebanyak 2.760 pengungsi dan pencari suaka yang dievakuasi dari Libya via Mekanisme Transit Darurat, melalui 21 penerbangan evakuasi.
Kigali, Rwanda (Xinhua/Indonesia Window) – Rwanda mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) untuk menerima hingga 250 migran, sebagai bentuk penegasan kembali komitmen jangka panjang negara tersebut dalam mendukung populasi para pengungsi dan mendorong reintegrasi, demikian disampaikan seorang pejabat pemerintah Rwanda pada Selasa (5/8)."Hampir setiap keluarga di Rwanda pernah mengalami kesulitan akibat pengungsian, dan nilai-nilai sosial kami didasarkan pada prinsip reintegrasi serta rehabilitasi," ujar juru bicara Pemerintah Rwanda Yolande Makolo kepada penyiar nasional Rwanda TV.Di bawah kesepakatan tersebut, Rwanda tetap memiliki wewenang untuk meninjau dan menyetujui setiap individu yang diusulkan untuk penempatan kembali."Mereka yang disetujui akan diberikan pelatihan kerja, layanan kesehatan, dan dukungan akomodasi untuk memulai kehidupan mereka di Rwanda, sekaligus memberi mereka kesempatan untuk berkontribusi pada salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia dalam satu dekade terakhir," paparnya.Kesepakatan ini didasarkan pada rekam jejak Rwanda yang telah lama terbukti dalam memberikan perlindungan kepada para migran dan pencari suaka.Menurut Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR), pada periode September 2019 hingga April 2025, Rwanda telah menerima sebanyak 2.760 pengungsi dan pencari suaka yang dievakuasi dari Libya via Mekanisme Transit Darurat, melalui 21 penerbangan evakuasi.Mayoritas pengungsi yang dievakuasi tersebut berasal dari Eritrea, Somalia, Sudan, Ethiopia, Sudan Selatan, Kamerun, Nigeria, Mali, dan Chad. Per April 2025, lebih dari 2.100 di antaranya telah direlokasi ke negara-negara ketiga, menurut UNHCR.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Teknologi digital bawa pengunjung ke masa lalu Tembok Besar China
Indonesia
•
28 Feb 2024

Suku Truku Taiwan punya kesamaan bahasa dengan Indonesia
Indonesia
•
14 Feb 2020

Feature – Dari Guangxi ke Indonesia: Kisah perjuangan Shi Rufei wujudkan kemakmuran lewat teh Liu Bao di panggung internasional
Indonesia
•
04 Mar 2026

Feature – Kisah perjalanan ibu dan anak asal Indonesia raih harapan dan prestasi di China
Indonesia
•
22 Jul 2024


Berita Terbaru

Wawancara – Di tengah kesibukan, orang tua tetap harus hadir untuk anak
Indonesia
•
20 Sep 2026

Karyawan International Green Industrial Park Morowali selamatkan tujuh korban insiden perahu terbalik
Indonesia
•
19 Sep 2026

Fokus Berita – Indonesia kekurangan 3 juta talenta teknologi, China-Indonesia siapkan kurikulum AI di 186 kampus
Indonesia
•
19 Sep 2026

Feature – Di batu nisan veteran Jepang ada permintaan maaf, jejak kelamnya ditemukan di China (Bagian 1 dari 2)
Indonesia
•
17 Sep 2026
