
Kisah – Dua puluh tahun kemudian, akhirnya masuk Universitas Islam Madinah

Gedung Unit 15 Universitas Islam Madinah pada 27 Januari 2017. (Indonesia Window/Daday Hidayat)
Dua puluh tahun lalu, saya mengirim sebuah amplop cokelat menuju Kota Madinah.
Di dalamnya tersimpan berkas pendaftaran ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi—kampus yang menjadi impian banyak penuntut ilmu syariah dari berbagai penjuru dunia, termasuk saya.
Lalu saya menunggu.
Berpekan-pekan
Berbulan-bulan.
Tidak ada surat balasan. Tidak ada telepon. Tidak ada surel.
Pada masa itu, seluruh proses pendaftaran mahasiswa internasional masih dilakukan melalui pengiriman dokumen fisik. Belum ada sistem daring yang memungkinkan calon mahasiswa melacak apakah berkas mereka telah diterima atau sedang diproses.
Hingga hari ini, saya tidak pernah mengetahui apakah amplop itu benar-benar tiba di Madinah atau hilang di tengah perjalanan.
Saya hanya tahu satu hal: saya tidak pernah menjadi mahasiswa Universitas Islam Madinah.
Saya mengira kisah itu telah selesai.
Ternyata belum.
Beberapa waktu setelah penantian itu berlalu tanpa kepastian, Allah (ﷻ) membuka jalan lain yang sama sekali tidak saya bayangkan.
Saya diterima belajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang Universitas Imam Muhammad bin Saud Al-Islamiyah, Riyadh. Di sana saya menempuh pendidikan selama sekitar lima tahun, mulai dari program bahasa Arab takmili hingga menyelesaikan Program Sarjana Syariah.
Saat itu saya belum memahami bahwa kegagalan menuju Madinah bukanlah akhir perjalanan. Ia hanya mengubah rute.
Setelah lulus, Allah kembali memperluas jalan yang sebelumnya tidak pernah saya rencanakan.
Pada 2014–2015 saya mendapat amanah sebagai da'i sekaligus penerjemah bahasa Indonesia di Kantor Dakwah dan Bimbingan Islam untuk Orang Asing (Maktab Jaliyat) Rabwah, Riyadh.
Di sana saya terlibat dalam penerjemahan buku-buku Islam, penyuntingan materi dakwah, produksi konten digital, hingga pendampingan program pembinaan bagi komunitas Indonesia.
Pengalaman itu kemudian mengantarkan saya bertugas sebagai penerjemah (translator) dan interpreter bahasa Arab di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah pada 2016–2017.
Lingkup pekerjaan berkembang dari pelayanan dakwah menjadi komunikasi resmi, pelayanan warga negara Indonesia, serta pendampingan berbagai agenda diplomatik.
Barulah saya menyadari bahwa setiap fase kehidupan ternyata saling menyambung. Allah (ﷻ) sedang menyusun perjalanan yang tidak dapat saya lihat ketika amplop itu pertama kali saya kirim dari Indonesia.

Akhirnya masuk juga
Suatu hari, sebuah tugas resmi membawa saya menuju Universitas Islam Madinah.
Mobil yang saya tumpangi perlahan memasuki gerbang kampus. Jalan-jalan yang rindang, bangunan-bangunan akademik yang selama bertahun-tahun hanya saya kenal melalui foto, kini berdiri nyata di hadapan mata.
Saat itulah ingatan saya melayang dua puluh tahun ke belakang.
Kepada sebuah amplop cokelat.
Kepada kantor pos.
Kepada doa-doa yang pernah saya panjatkan.
Namun kali ini saya datang bukan sebagai calon mahasiswa.
Bukan pula sebagai mahasiswa.
Saya hadir sebagai interpreter bahasa Arab dalam sebuah agenda resmi yang mempertemukan Indonesian diplomatic entourage dengan sivitas akademika Universitas Islam Madinah.
Sulit menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu.
Allah (ﷻ) ternyata tetap membawa saya memasuki kampus yang pernah menjadi impian. Hanya saja bukan melalui status yang selama ini saya bayangkan.
Saya tidak datang sebagai mahasiswa.
Saya datang sebagai seorang profesional yang menjalankan amanah.
Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa Allah (ﷻ) tidak selalu membuka pintu yang kita ketuk.
Terkadang Dia Yang Maha Kuasa mengarahkan langkah kita menuju pintu lain yang pada akhirnya membawa kita ke tempat yang sama, bahkan dengan cara yang lebih luas dan lebih bermakna.

Jalan makin terbuka
Beberapa hari lalu, Universitas Islam Madinah mengumumkan sebuah kabar yang menggembirakan.
Untuk pertama kalinya, universitas tersebut membuka Program Sarjana (S1) Syariah secara daring dengan beasiswa penuh bagi mahasiswa internasional. Kesempatan yang dahulu hanya dapat diraih dengan datang langsung ke Madinah kini dapat diakses dari berbagai negara.
Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar inovasi pendidikan.
Namun bagi saya, pengumuman itu seolah membuka kembali lembaran perjalanan yang telah berlangsung selama dua puluh tahun.
Saya teringat bagaimana dahulu sebuah amplop harus menempuh ribuan kilometer tanpa kepastian apakah benar-benar sampai ke tujuan.
Hari ini, calon mahasiswa cukup mengirimkan berkas secara daring. Mereka dapat mengikuti proses seleksi dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih transparan.
Jalan lain
Tidak semua cita-cita diwujudkan melalui jalan yang kita rencanakan.
Ada yang langsung sampai pada tujuan.
Ada pula yang harus singgah di berbagai tempat, belajar dari banyak pengalaman, sebelum akhirnya memahami hikmah di balik setiap langkah.
Dulu saya mengira impian saya adalah menjadi mahasiswa Universitas Islam Madinah.
Kini saya menyadari bahwa yang Allah (ﷻ) kehendaki ternyata lebih luas daripada sekadar status mahasiswa.
Dia memberi kesempatan untuk belajar di tempat lain, mengabdi di bidang dakwah, melayani masyarakat Indonesia di Arab Saudi, hingga akhirnya memasuki Universitas Islam Madinah melalui tugas yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan.
Barangkali, itulah pelajaran terbesar yang saya peroleh dari sebuah amplop cokelat yang tak pernah saya ketahui nasibnya.
Dan hari ini, ketika Universitas Islam Madinah membuka Program S1 Syariah daring dengan beasiswa penuh bagi mahasiswa internasional, saya melihat kesempatan baru bagi ribuan, atau bahkan jutaan Muslim di berbagai penjuru dunia.
Mungkin, bagi sebagian dari mereka, inilah jalan yang Allah (ﷻ) bukakan menuju Madinah.
Selesai
Tentang penulis
Daday Hidayat, Lc. adalah alumnus Program Sarjana Syariah LIPIA Jakarta. Dia pernah bertugas sebagai da’i dan penerjemah di Kantor Dakwah dan Bimbingan Islam untuk Orang Asing (Maktab Jaliyat) Rabwah, Riyadh (2014–2015), kemudian melanjutkan pengabdian sebagai penerjemah (translator) dan interpreter bahasa Arab di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah (2016–2017).
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

KP.3.1.1 jadi varian COVID-19 dominan di AS seiring kasus infeksi terus meningkat
Indonesia
•
21 Aug 2024

Genjot angka kelahiran, Shandong di China timur berencana perpanjang cuti menikah
Indonesia
•
29 Nov 2024

Aljazair akan gelar Konferensi Internasional 2025 tentang Kejahatan Kolonial di Afrika
Indonesia
•
18 Nov 2025

Nobel kedokteran dimenangkan ahli genetika Swedia untuk eksplorasi DNA kuno
Indonesia
•
04 Oct 2022


Berita Terbaru

Larangan medsos untuk anak di Australia sukses, pengguna turun 10 persen
Indonesia
•
31 Jul 2026

FIFA selidiki dugaan pelanggaran Argentina di Piala Dunia 2026, apa saja tuduhannya?
Indonesia
•
31 Jul 2026

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026
