Tinjauan ilmuwan Australia sebut ponsel tidak berhubungan dengan kanker otak

Seorang wanita tampak sedang menggunakan ponsel di Sydney, Australia, pada 8 Agustus 2020. (Xinhua/Bai Xuefei)
Paparan gelombang radio sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia sebagian besar didasarkan pada bukti yang terbatas dari penelitian observasional.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Telepon seluler (ponsel) tidak berhubungan dengan kanker otak, demikian kesimpulan dari tinjauan para ilmuwan pemerintah Australia yang ditugasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Para peneliti dari Badan Perlindungan Radiasi dan Keselamatan Nuklir Australia (Australian Radiation Protection and Nuclear Safety Agency/ARPANSA) pada Rabu (4/9) memublikasikan hasil tinjauan sistematis mengenai potensi dampak kesehatan akibat paparan gelombang radio dari ponsel.Tinjauan yang ditugaskan oleh WHO ini menganalisis hasil lebih dari 5.000 penelitian yang dilakukan pada 1994 hingga 2022, dan menemukan bahwa tingkat tumor otak tetap stabil meski penggunaan ponsel meningkat secara luas pada periode yang sama."Ketika Badan Penelitian Kanker Internasional (International Agency for Research on Cancer/IARC) mengklasifikasikan paparan gelombang radio sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia pada 2013, hal itu sebagian besar didasarkan pada bukti yang terbatas dari penelitian observasional manusia," ujar Ken Karipidis dari ARPANSA, yang memimpin tinjauan tersebut, dalam sebuah rilis media."Tinjauan sistematis terhadap penelitian observasional manusia ini didasarkan pada kumpulan data yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang diperiksa oleh IARC, yang juga mencakup penelitian yang lebih baru dan lebih komprehensif, sehingga kami dapat lebih yakin bahwa paparan gelombang radio dari teknologi nirkabel tidak membahayakan kesehatan manusia."Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa tidak ada kaitan antara penggunaan ponsel dalam jangka panjang atau jumlah penggunaan ponsel dengan kanker.Karipidis, yang juga menjabat sebagai wakil ketua Komisi Internasional tentang Perlindungan Radiasi Non-Ionisasi, mengatakan hasilnya konsisten dengan penelitian ARPANSA sebelumnya yang menunjukkan tidak ada peningkatan insiden kanker otak selama 20 tahun terakhir.ARPANSA merupakan otoritas perlindungan radiasi utama pemerintah federal Australia.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Science and Technology Daily ungkap 10 kemajuan ilmiah teratas China edisi 2023
Indonesia
•
27 Dec 2023

Badan Geologi luncurkan atlas sebaran tanah lunak Indonesia
Indonesia
•
21 Nov 2019

Menteri China sebut negaranya akan miliki 2,9 juta BTS 5G hingga akhir 2023
Indonesia
•
07 Mar 2023

Feature – ‘Kampung halaman dinosaurus’ di China menjelma jadi pusat penelitian fosil global
Indonesia
•
17 Sep 2025
Berita Terbaru

Studi ungkap Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dari perkiraan sebelumnya
Indonesia
•
03 Feb 2026

Pankreas buatan bantu pengidap diabetes akhiri injeksi insulin harian
Indonesia
•
03 Feb 2026

Vaksin personalisasi pertama di dunia untuk kanker otak anak yang mematikan dalam tahap uji klinis
Indonesia
•
03 Feb 2026

Pasien bertahan hidup 48 jam tanpa dua paru-paru dengan organ buatan
Indonesia
•
02 Feb 2026
