
Fokus Berita – Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, pengamat burung di China lanjutkan aktivitas konservasi lahan basah

Pengamat burung melakukan survei di pantai di Hainan pada 14 Januari 2024. (Xinhua/Chen Ziwei)
Pulau tropis di China selatan, Hainan, memiliki suhu hangat saat musim dingin, dengan suhu sebagian besar di atas 20 derajat Celsius, sehingga menarik banyak burung yang bermigrasi untuk beristirahat dan mencari makan karena iklim dan sumber daya lahan basahnya yang melimpah.
Haikou, China (Xinhua) – Hainan, provinsi pulau tropis di China selatan, memiliki suhu hangat saat musim dingin, dengan suhu sebagian besar di atas 20 derajat Celsius. Pulau ini menarik banyak burung yang bermigrasi untuk beristirahat dan mencari makan karena iklim dan sumber daya lahan basahnya yang melimpah.Hainan terletak di jalur migrasi burung Asia Timur-Australasia, yang membentang dari timur jauh Rusia dan Alaska di utara, hingga Australia dan Selandia Baru di selatan. Rute ini mencakup 22 negara dan merupakan yang tersibuk di antara semua jalur migrasi.Pada 2006, KTT Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan menandatangani Kemitraan Jalur Migrasi Asia Timur-Australasia (East Asian-Australasian Flyway Partnership/EAAFP) untuk melindungi burung air yang bermigrasi, habitatnya, dan kesejahteraan manusia yang bergantung pada lahan basah tersebut. Anggota EAAFP meliputi Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Rusia, China, Thailand, dan negara lainnya.Cai Ting, pakar burung, mengatakan kepada Xinhua bahwa saat banyak burung air yang menghabiskan musim dingin (wintering) di Indonesia melewati Hainan dalam migrasi mereka.Baru-baru ini, pemantauan berkelanjutan selama tiga hari pada burung air yang menghabiskan musim dingin di Hainan dilakukan di banyak area di pulau itu.Luo Lixiang (50) adalah salah satu pemimpin tim dalam survei tersebut. Dia memimpin tim sukarelawan termasuk siswa sekolah menengah, penjaga hutan, profesor perguruan tinggi, pelindung hewan, dan mahasiswa doktoral. Mereka melakukan survei di tujuh lokasi observasi di Hainan.Luo adalah seorang penjaga hutan di sebuah taman lahan basah nasional. Rutinitas hariannya meliputi pemantauan burung dan patroli hutan bakau. Survei lapangan yang sering dilakukan telah membuat kulitnya menjadi gelap. Itu alasan dia begitu akrab dengan daratan dan burung.Di tim Luo, Liu Tao dan Niu Xin bertanggung jawab mencatat jumlah spesies burung. Mereka berdua menempuh studi ekologi di Hainan Normal University mengejar gelar doktor.Zeng Xiaoqi, profesor di Fakultas Perikanan Universitas Kelautan China, melakukan perjalanan bisnis ke Hainan baru-baru ini. Selama akhir pekan, dia bergabung dalam tim investigasi Luo sebagai sukarelawan dengan kamera lensa telefotonya."Awalnya saya hanya mengamati burung di dekat rumah saya. Semakin saya mendalaminya, semakin saya menyukainya. Kemudian, saya pergi ke lebih banyak tempat untuk mengamati dan memotret burung, dan peralatan fotografi saya secara bertahap ditingkatkan dari kamera level pemula menjadi kamera profesional," tutur Zeng.
Burung kedidi paruh sendok berjalan di lahan basah di Hainan pada 14 Januari 2024. (Luo Lixiang)
Sekawanan burung air terlihat beristirahat di teluk di Hainan pada 14 Januari 2024. (Zeng Xiaoqi)
Para pengamat burung berfoto bersama di Hainan pada 14 Januari 2024. (Chen Jintai)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Antibodi ditemukan di semua relawan uji vaksin Rusia
Indonesia
•
29 Aug 2020

Spesies tanaman baru berbentuk piala ditemukan di China selatan
Indonesia
•
20 Sep 2024

Permintaan meningkat, perusahaan bioteknologi berlomba kembangkan galur baru kedelai berkualitas tinggi
Indonesia
•
17 Sep 2025

Senjata baru Indonesia hadapi tsunami, kirim peringatan kurang dari 5 menit
Indonesia
•
01 Jun 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
