
Pezeshkian ungkap syarat Iran untuk damai dengan AS di tengah eskalasi

Foto dokumentasi ini menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sedang menyampaikan pidato di Teheran, Iran, pada 11 Februari 2026. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa (1/9) mengatakan bahwa jika Amerika Serikat (AS) kembali berkomitmen pada nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian dengan Iran, Teheran siap memenuhi kewajibannya.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) 2026 di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, ungkap pernyataan dari kantornya.
Pezeshkian menegaskan bahwa AS tidak dapat lagi memaksakan tuntutan-tuntutan "ilegal"-nya kepada Iran dengan menggunakan kekuatan.
Mengacu pada "agresi" AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer dan warga sipil, Pezeshkian mengatakan bahwa "kejahatan-kejahatan tersebut tidak memiliki dasar hukum apa pun, dan agresi semacam itu sama sekali tidak dapat dibenarkan."
Dia juga mengatakan bahwa Iran akan menentang unilateralisme serta kebijakan yang didasarkan pada tekanan dan sanksi, seraya menyerukan penguatan kerja sama regional dan multilateralisme.
Pezeshkian menggambarkan hubungan Iran-Rusia sebagai hubungan yang "strategis" dan "berada pada tingkat yang sangat baik," seraya memuji dukungan Moskow kepada Teheran.
Sementara itu, Putin menyatakan keprihatinan atas ketegangan regional yang terus berlanjut dan menyampaikan harapannya akan hasil nyata dalam perundingan AS-Iran.
Dia juga menegaskan komitmen Rusia untuk mempererat hubungan dengan Teheran di segala bidang.
Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Selasa menolak klaim AS sekaligus menyebutnya sebagai sebuah "kebohongan" bahwa serangan terbarunya terhadap Pulau Larak, Iran, dilakukan karena pasukan Iran tengah bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers pekanan, Baghaei menyinggung klaim berulang AS mengenai niat Iran untuk mengembangkan senjata nuklir, seraya mengatakan bahwa pola Washington adalah "selalu mengarang kebohongan untuk membenarkan kejahatannya."
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah, dan memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut, dengan perundingan dijadwalkan berlangsung dalam kurun 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir.
Namun, nasib perundingan itu masih belum jelas di tengah eskalasi yang terus berlanjut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Netanyahu: Israel siap lancarkan "aksi intens" di front utara
Indonesia
•
07 Jun 2024

Washington desak Teheran bongkar fasilitas nuklir, pindahkan pengayaan uranium ke AS
Indonesia
•
28 Feb 2026

Trump tolak aturan AI dunia, PBB peringatkan agen AI mulai bertindak di luar kendali
Indonesia
•
23 Sep 2026

COVID-19 – Taiwan bayar denda 2,9 miliar rupiah imbas kasus kematian akibat vaksinasi
Indonesia
•
16 Jun 2022


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
