Perdagangan nonmigas RI–UEA tembus 96,2 triliun rupiah, energi bersih hingga SDM jadi bidikan

Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, dalam kuliah umum ‘President University Ambassador Lecture’ di President University, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (8/10/2026). (Foto: Istimewa)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Perdagangan barang nonmigas antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) naik sekitar 204 persen dalam lima tahun, dari 1,92 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 5,84 miliar dolar AS pada 2025.

*1 dolar AS = 17.904 rupiah

Di tengah hubungan diplomatik yang genap berusia 50 tahun pada 2026, kedua negara kini menjajaki peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari energi bersih sampai ekonomi digital.

Peluang itu disampaikan Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, dalam kuliah umum ‘President University Ambassador Lecture’ di President University, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/10).

Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara terus berkembang menjadi lebih beragam dan saling menguntungkan.

Kemitraan kedua negara, kata Dubes AlDhaheri, tak hanya mencakup hubungan antarpemerintah. Hubungan antarpemimpin, dunia usaha, perdagangan, dan kerja sama pembangunan juga menjadi bagian penting, termasuk upaya menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Salah satu tonggak kerja sama ekonomi kedua negara adalah Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Perjanjian yang ditandatangani pada 1 Juli 2022 itu mulai berlaku pada 1 September 2023, dengan tujuan mengurangi hambatan perdagangan, memperluas akses pasar, dan meningkatkan arus perdagangan bilateral.

Kenaikan perdagangan nonmigas menjadi salah satu gambaran berkembangnya hubungan ekonomi tersebut.

Menurut Dubes AlDhaheri, capaian itu membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia dan UEA untuk memperluas pasar serta membangun kemitraan baru.

Kerja sama juga merambah sektor energi. Salah satu proyek yang disoroti adalah pembangkit listrik tenaga surya terapung Cirata di Jawa Barat, hasil kolaborasi Masdar dan PLN Nusantara Power.

Pembangkit berkapasitas 145 megawatt AC itu diresmikan pada November 2023 sebagai salah satu contoh kerja sama untuk mendukung transisi energi.

Kedua negara juga bekerja sama di bidang panas bumi dan eksplorasi gas alam, serta membuka peluang pengembangan energi terbarukan di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Masdar dan PLN Nusantara Power turut menjajaki perluasan kapasitas PLTS terapung Cirata hingga 500 megawatt dan pengembangan proyek serupa di Bendungan Jatigede, Jawa Barat.

Di bidang lingkungan, Indonesia dan UEA meluncurkan Mangrove Alliance for Climate pada COP27 tahun 2022. Aliansi yang kini berkembang menjadi 47 negara itu menjadi wadah kerja sama untuk pelestarian dan rehabilitasi mangrove.

Kolaborasi lainnya mencakup pembangunan ‘Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre' di Bali, yang didukung komitmen pendanaan UEA sebesar 10 juta dolar AS.

UEA juga berkomitmen mengalokasikan 20 juta dolar AS untuk inisiatif ‘Clean Rivers’, yang bertujuan membantu mengatasi pencemaran plastik dan mencegah sampah masuk ke sungai serta ekosistem laut Indonesia.

Selain itu, Dubes AlDhaheri turut menyoroti pentingnya peran generasi muda Indonesia dalam memperkuat hubungan kedua negara. Pendidikan, kewirausahaan, teknologi, investasi, dan konektivitas antarmasyarakat disebut dapat membuka ruang kolaborasi baru.

Kerja sama air dan sanitasi juga menjadi agenda penting. Setelah Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024, UEA dan Senegal dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa 2026 di Abu Dhabi pada 8–10 Desember.

Dubes UEA menilai tantangan air perlu dijawab melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, dan sektor teknologi.

Hubungan kedua negara, menurutnya, juga ditopang kedekatan antarpemimpin.

Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan hubungan erat yang sebelumnya dibangun bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Menutup kuliahnya, Dubes AlDhaheri menegaskan komitmen UEA untuk terus mendukung inisiatif yang memperluas kerja sama dan membuka peluang baru bagi kedua negara.

“UEA tidak hanya berinvestasi pada proyek, tetapi juga pada kemitraan; tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada manusia; dan tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa depan bersama kedua bangsa,” demikian pesan yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait