
Ilmuwan China capai terobosan besar dalam teknologi sel surya perovskit

Foto dari udara yang diabadikan dengan drone pada 20 Agustus 2024 ini menunjukkan pemandangan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Termal Surya Terpusat Redstone di dekat Postmasburg di Provinsi Northern Cape, Afrika Selatan. Proyek ini adalah salah satu pembangkit listrik energi terbarukan terbesar di negara tersebut. (Xinhua/Zhang Yudong)
Perangkat PSC inovatif mampu beroperasi selama 3.670 jam yang belum pernah terjadi sebelumnya, menetapkan tolok ukur baru untuk daya tahan.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan China berhasil mencapai kemajuan besar dalam bidang sel surya perovskit (perovskite solar cell/PSC), yang berpotensi membuka jalan bagi penerapan industri mereka secara luas.PSC, sebuah teknologi fotovoltaik generasi berikutnya yang sangat menjanjikan, dapat menghasilkan listrik seperti sel berbasis silikon tradisional sekaligus memberikan keunggulan yang berbeda seperti memiliki ukuran sangat tipis, fleksibel, dan ringan. Fitur-fitur ini membuka kemungkinan untuk diintegrasikan ke dalam permukaan yang tidak konvensional seperti pakaian dan jendela. Namun, ketidakstabilan perangkat ini masih menjadi hambatan utama untuk komersialisasi.Tim peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Timur (East China University of Science and Technology) yang berbasis di Shanghai telah mencapai terobosan besar dengan mengidentifikasi mekanisme penting di balik ketidakstabilan ini.Para peneliti mengembangkan perangkat PSC inovatif yang mampu beroperasi selama 3.670 jam yang belum pernah terjadi sebelumnya, menetapkan tolok ukur baru untuk daya tahan. Penelitian mereka diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Science.Untuk mengatasi isu stabilitas, para peneliti tersebut memperkenalkan solusi baru: menempatkan material perovskit dalam ‘baju pelindung’ yang terbuat dari grafena-polimer (graphene-polymer), sebuah bahan yang kuat dan tahan lama. Pendekatan inovatif ini secara signifikan meningkatkan masa pakai dan ketahanan material tersebut.Selain itu, para peneliti juga mengungkapkan bahwa mereka telah memulai uji coba kolaboratif dengan sejumlah mitra industri. Jika berhasil diproduksi secara massal, teknologi ini dapat merevolusi sektor energi, memungkinkan inovasi-inovasi yang mengintegrasikan pengumpulan energi surya ke dalam kehidupan sehari-hari.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China raih penghargaan internasional di bidang fisika materi terkondensasi
Indonesia
•
25 Oct 2023

PLTB darat terbesar di China memulai produksi kapasitas penuh
Indonesia
•
11 Dec 2023

Ilmuwan Rusia ramalkan puing ruang angkasa 100 tahun ke depan
Indonesia
•
09 Sep 2020

Astronaut China lakukan pelatihan dan eksperimen penting di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
14 Jan 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
