
Pentagon pertimbangkan kirim 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 19 Februari 2020 ini menunjukkan pemandangan Pentagon dari sebuah pesawat di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah guna memberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih banyak opsi militer selain diplomasi.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah guna memberikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lebih banyak opsi militer selain diplomasi, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Kamis (26/3).
Pasukan tersebut, yang kemungkinan akan mencakup infanteri dan kendaraan lapis baja, akan bergabung dengan sekitar 5.000 marinir dan ribuan pasukan terjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang telah dikerahkan ke wilayah tersebut, menurut laporan tersebut mengutip pejabat Departemen Perang AS.
Belum jelas di mana tepatnya pasukan tersebut akan ditempatkan di Timur Tengah, tetapi mereka diperkirakan akan berada dalam jangkauan untuk menyerang Iran dan Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak penting, tambah laporan itu.
"Semua pengumuman mengenai penempatan pasukan akan datang dari Departemen Perang. Seperti yang telah kami sampaikan, Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer yang dapat dia gunakan," demikian dikutip dari Anna Kelly, wakil sekretaris pers Gedung Putih.
Sebelumnya pada Kamis, Trump mengatakan akan menunda serangan yang direncanakan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari lagi, hingga 6 April pukul 20.00 Eastern Time (7 April pukul 07.00 WIB), seraya mengklaim bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak "berjalan dengan sangat baik".
Iran secara terbuka menolak rencana perdamaian 15 poin yang diusulkan Gedung Putih, tetapi secara diam-diam mempertimbangkan untuk bertemu dengan negosiator AS yang tidak disebutkan namanya di Pakistan dalam beberapa hari ke depan, ungkap sebuah laporan dari The New York Times.
AS dan Israel memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengganggu pengiriman global, mendorong kenaikan harga minyak, dan mengguncang perekonomian global.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penulis naskah Hollywood mulai aksi mogok kerja kali pertama dalam 15 tahun
Indonesia
•
03 May 2023

COVID-19 – Semua pelancong ke Taiwan jalani enam tes
Indonesia
•
17 Dec 2021

Komisaris HAM PBB serukan gencatan senjata saat jumlah korban tewas di Gaza tembus 40.000 orang
Indonesia
•
18 Aug 2024

Sekjen PBB suarakan "kekhawatiran mendalam" soal eskalasi kekerasan antara Israel dan Hizbullah
Indonesia
•
25 Jun 2024


Berita Terbaru

‘Shutdown’ picu kekurangan staf, waktu tunggu di bandara AS tembus 4 jam
Indonesia
•
27 Mar 2026

Lebih dari 350 kapal menunggu izin iran untuk lintasi Selat Hormuz
Indonesia
•
27 Mar 2026

Trump kembali tegaskan klaimnya bahwa perang Iran "jauh lebih cepat dari jadwal"
Indonesia
•
27 Mar 2026

Belanja pertahanan NATO pada 2025 tembus 23,7 kuadriliun rupiah
Indonesia
•
27 Mar 2026
