Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"

Orang-orang berduka dalam sebuah aksi unjuk rasa untuk mengenang mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi saat ini, Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, pada 7 Mei 2026. (Xinhua/Shadati)

Iran menolak proposal terbaru Amerika Serikat yang dianggap sama saja dengan menyerah, dan menyerukan diakhirinya perang, penghapusan sanksi, serta pencabutan blokade laut.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Iran menolak proposal terbaru Amerika Serikat (AS) yang dianggap sama saja dengan menyerah, dan menyerukan diakhirinya perang, penghapusan sanksi, serta pencabutan blokade laut dalam tanggapannya terkait draf rencana tersebut. Presiden AS Donald Trump menyebut hal itu "sama sekali tidak dapat diterima."

Draf proposal terbaru Iran untuk perundingan dengan AS menyerukan penghentian segera konflik di semua lini, jaminan bahwa tidak akan ada lagi "agresi" terhadap Iran, dan pencabutan sanksi serta blokade laut AS, lapor kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, pada Ahad (10/5).

"Proposal tersebut menyoroti perlunya segera mengakhiri perang, memberikan jaminan agar agresi terhadap Iran tidak terulang, dan beberapa isu lainnya dalam sebuah kesepakatan politik," kata Tasnim mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.

Proposal tersebut juga menuntut jangka waktu 30 hari untuk mencabut sanksi AS terhadap penjualan minyak Iran, dan pelepasan aset Iran yang dibekukan setelah kesepakatan awal, lapor Tasnim.

"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya. SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump beberapa jam kemudian di platform media sosialnya pada Ahad, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran perlu "memperjelas" bahwa pihaknya tidak berupaya memiliki senjata nuklir, yang dipandang Washington sebagai hal krusial untuk mencapai kesepakatan perdamaian.

Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan telah saling bertukar usulan rencana yang menguraikan syarat-syarat untuk mengakhiri konflik dengan dimediasi Pakistan.

Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai mulai berlaku pada 8 April, diikuti oleh perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April yang berakhir tanpa kesepakatan. Setelah itu, AS memberlakukan blokadenya sendiri di selat tersebut.

AS dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lainnya di Iran pada 28 Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat senior Iran dan warga sipil. Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan kepentingan AS di kawasan tersebut serta memperketat kendali atas Selat Hormuz.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait