AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi

Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris 'Stena Impero' dikelilingi 'speedboat' Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran di Selat Hormuz, Iran. (Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)

Militer AS menyerang dua kapal Iran di dekat Selat Hormuz dan secara bersamaan melancarkan serangan udara ke sejumlah area sipil di Iran selatan dalam kerja sama dengan beberapa negara kawasan.

 

Teheran/Washington, Iran/Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Komando militer utama Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, pada Kamis (7/5) malam waktu setempat menyatakan bahwa militer Amerika Serikat (AS) menyerang dua kapal Iran di dekat Selat Hormuz dan secara bersamaan melancarkan serangan udara ke sejumlah area sipil di Iran selatan dalam kerja sama dengan beberapa negara kawasan.

Serangan oleh tentara "agresif dan teroris" AS itu melanggar kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS, ujar juru bicara markas tersebut, Ebrahim Zolfaghari, seperti dikutip media Iran.

Salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah kapal tanker minyak yang berlayar dari perairan teritorial Iran di dekat Jask menuju Selat Hormuz, sementara kapal lainnya sedang memasuki jalur air tersebut di dekat Fujairah, Uni Emirat Arab, ujar Zolfaghari, seraya menambahkan bahwa area-area sipil yang menjadi target serangan mencakup Bandar-e Khamir dan Sirik, yang sama-sama berada di Provinsi Hormozgan.

Dia menuturkan angkatan bersenjata Iran segera melakukan serangan balasan dengan menyerang kapal-kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan di selatan Pelabuhan Chabahar, Iran, menyebabkan kerusakan signifikan.

Zolfaghari memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons destruktif terhadap setiap agresi tanpa keraguan.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran pada Jumat (8/5) pagi menyatakan pasukan Iran melaksanakan "operasi gabungan skala besar dan berpresisi" menggunakan rudal balistik, rudal jelajah antikapal, serta drone peledak yang menargetkan kapal perusak AS.

Mereka menambahkan bahwa hasil penilaian intelijen menunjukkan adanya "kerusakan signifikan" pada kapal-kapal AS, sehingga tiga kapal perusak terpaksa mundur dari area Selat Hormuz.

Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS dalam sebuah pernyataan menyebut pasukan AS berhasil mencegat "serangan Iran yang tidak beralasan" dan membalas dengan serangan pertahanan diri saat kapal-kapal angkatan laut mereka melewati Selat Hormuz.

CENTCOM menambahkan pihaknya "tidak menginginkan eskalasi, namun tetap berada di posisi dan siap melindungi pasukan Amerika."

Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan tidak ada kerusakan yang dialami tiga kapal perusak kelas dunia milik AS yang baru saja melintasi Selat Hormuz itu.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan Iran menderita kerugian besar dan mengancam bahwa serangan-serangan berikutnya akan "jauh lebih keras dan jauh lebih sengit."

Sementara itu, koresponden Fox News Jennifer Griffin mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan militer AS melakukan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Bandar Abbas di Iran, tetapi menambahkan bahwa tindakan tersebut bukanlah tanda dimulainya kembali perang maupun berakhirnya gencatan senjata.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Project Freedom, operasi militer AS untuk mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz, akan dihentikan sementara guna melihat apakah kesepakatan damai dapat dicapai dengan Teheran.

Trump mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain, serta adanya "kemajuan besar ... yang telah dicapai menuju kesepakatan yang lengkap dan final dengan perwakilan Iran."

Proyek tersebut berjalan selama kurang dari 48 jam sebelum akhirnya ditangguhkan. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait