
Penjualan mobil merek China di Indonesia naik 79 persen pada Q1 2026

Sebuah unit mobil listrik terbaru GAC Aion, Aion UT, melintas di jalan raya. Mobil ini resmi diluncurkan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di Tangerang, Provinsi Banten. (Sumber: GAC Indonesia)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Pengiriman kendaraan dari pabrik ke dealer, atau yang dikenal sebagai penjualan grosir (wholesale), oleh pabrikan mobil China di Indonesia pada kuartal pertama (Q1) tahun ini mencatat pertumbuhan 79 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan penjualan mobil nasional secara keseluruhan yang hanya meningkat 1,7 persen.
Dengan total penjualan wholesale kendaraan penumpang maupun niaga sebanyak 37.115 unit, pangsa pasar merek-merek China terus meningkat menjadi 17,8 persen pada Q1 tahun ini, dari 10,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.
BYD dan Jaecoo memimpin penjualan pabrikan China dengan masing-masing mendistribusikan 12.473 unit dan 8.065 unit. Kedua merek ini berada di urutan keenam dan ketujuh sebagai merek terlaris secara nasional sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Selain kedua merek tersebut, pabrikan China lainnya juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, seperti GAC Aion yang melaporkan kenaikan penjualan 79 persen menjadi 2.148 unit. Lebih dari sepertiga capaian tersebut berasal dari model Aion V, yang disebut masih konsisten mencatat penjualan stabil di tengah persaingan di segmen kendaraan compact SUV listrik yang terus berkembang.
"Kami melihat bahwa konsumen saat ini semakin memahami nilai kendaraan listrik secara menyeluruh. Perakitan lokal (CKD) bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang kepastian, mulai dari ketersediaan unit, kemudahan servis, hingga nilai jangka panjang," ujar CEO GAC Indonesia Andry Ciu dalam keterangannya.
Aion V merupakan salah satu lini kendaraan GAC Aion di Indonesia yang telah melalui proses perakitan lokal. Menurut Andry, hal ini tidak hanya membuat harganya lebih kompetitif karena efisiensi produksi dan ketersediaan insentif fiskal dari pemerintah, tetapi juga memberikan kepastian kepada konsumen dalam hal ketersediaan unit, suku cadang, serta layanan purnajual. Selain itu, fluktuasi harga bahan bakar fosil akibat perang juga disebut menjadi alasan masyarakat mulai mempertimbangkan untuk beralih ke kendaraan listrik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China dan ASEAN genjot pendidikan kejuruan untuk pembangunan regional
Indonesia
•
25 Dec 2024

Kamar Dagang Umum Indonesia Shanghai resmi didirikan
Indonesia
•
30 Mar 2026

Keyakinan konsumen meningkat jadi 113,4 di Oktober seiring membaiknya mobilitas
Indonesia
•
08 Nov 2021

Asosiasi bisnis Meksiko sebut tarif AS terhadap Meksiko dan Kanada sebagai "langkah mundur"
Indonesia
•
06 Mar 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
