
UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri

Sejumlah orang menyeberangi jalan di distrik bisnis keuangan di Singapura pada 14 April 2025. (Xinhua/Then Chih Wey)
Ekonomi Singapura sangat bergantung pada perdagangan, membuatnya sangat rentan terhadap gangguan global, sehingga mendorong para pelaku usaha untuk mengadopsi pendekatan yang lebih selektif dalam hal pertumbuhan internasional, meskipun mereka tetap mempertahankan ambisi ekspansi.
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Usaha kecil dan menengah (UKM) di Singapura merupakan sektor yang paling tidak optimistis secara global dalam hal ekspansi internasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus berlanjut, demikian menurut survei yang dilakukan jaringan akuntansi internasional Kreston Global yang diungkap pada Kamis (11/6).
Perusahaan survei tersebut menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa laporan mereka menemukan para pemimpin bisnis di Singapura menilai tingkat optimisme terhadap ekspansi ke luar negeri sebesar 7,2 dari 10, berada di bawah rata-rata global yang mencapai 8,2.
Meskipun sentimen cenderung berhati-hati, sebanyak 66 persen responden memprediksi kondisi untuk ekspansi bisnis internasional akan membaik dalam dua hingga tiga tahun ke depan, walaupun angka ini masih di bawah 86 persen yang tercatat di antara UKM-UKM seluruh dunia.
Meskipun para pengusaha internasional di Singapura termotivasi oleh pertumbuhan pasar dan peluang keunggulan kompetitif, 40 persen di antara mereka memperkirakan ekspansi ke luar negeri saat ini akan sangat sulit atau agak sulit untuk dilakukan.
Ketidakstabilan geopolitik muncul sebagai kekhawatiran utama yang disebutkan oleh 52 persen responden, angka tertinggi di antara seluruh pasar yang disurvei. Gangguan rantai pasokan diidentifikasi oleh 43 persen responden, sementara 42 persen lainnya menyoroti kenaikan biaya terkait tarif.
Helmi Talib, managing partner di Kreston Helmi Talib, menyebutkan ekonomi Singapura yang sangat bergantung pada perdagangan membuatnya sangat rentan terhadap gangguan global, sehingga mendorong para pelaku usaha untuk mengadopsi pendekatan yang lebih selektif dalam hal pertumbuhan internasional, meskipun mereka tetap mempertahankan ambisi ekspansi.
Survei ini juga mengungkap bahwa perusahaan-perusahaan Singapura memiliki pandangan yang relatif terukur terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam ekspansi ke luar negeri.
Meskipun 97 persen responden mengatakan bahwa AI memengaruhi strategi ekspansi mereka, hanya 52 persen yang menilai dampaknya signifikan atau sangat signifikan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Harga minyak jatuh 2 persen dipicu gangguan pasokan Teluk Meksiko AS
Indonesia
•
13 Aug 2022

OPEC tak ubah prediksinya soal permintaan minyak dan prospek ekonomi global
Indonesia
•
15 May 2024

Iklan Facebook di Vietnam dikenakan PPN 5 persen mulai 1 Juni
Indonesia
•
27 May 2022

Pendapatan Indosat Ooredoo naik 48 persen pada kuartal I 2022
Indonesia
•
28 Apr 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
